Rabu, 25 Maret 2020

Janji yang terlupakan

Suasana stasiun tampak lenggang ketika memasuki magrib 486 berpikir mungkin ia tak perlu bertugas sampai penuh hari itu, berkali-kali ia berpikir ingin pulang tetapi ia tak ingin mengecewakan ayahnya dan 477.
hingga tersisa perjalanan terakhir dari stasiun serpong untuk tujuan tanah abang ia masih saja merasa bosan karena terlalu sepi. pada stasiun sudimara penumpang yang naik agak lumayan banyak dan saat itu hari sudah gelap menunjukan pukul 20.00 malam. terdapat seorang anak perempuan yang masih mengenakan pakaian sekolahnya, 486 berpikir kenapa anak itu belum berganti baju selarut ini dan ia mendapati percakapan bahwa orangtua dari anak tersebut baru saja kembali dari stasiun sudimara atau yang biasa disebut jombang untuk melihat rumah yang akan dibelinya.
" 17 agustus tahun 45 itulah hari kemerdekaan kita.." 486 termenung dan bertanya-tanya kenapa anak perempuan itu bernyanyi dalam hati, mungkin saja tidak ingin mengganggu percakapan orang tuanya.
anak itu bernyanyi sambil mengguncangkan-guncangkan kakinya yang bahkan tidak sampai lantai
" kenapa kamu gak ikut nyanyi ?"
" heh?" 486 terkesiap anak itu berbicara dengan siapa pikirnya
" aku ngomong sama kamu, kenapa kamu gak ikut aku nyanyi ? masih agustus loh sekarang " ucap anak perempuan tersebut sambil kembali menyanyikan lagu kebangsaan. 486 terkejut dan memberanikan diri bertanya
" kamu bicara sama aku ?" tanyanya walaupun ragu anak perempuan itu akan menjawab
" iyaa aku bicara sama kamu " jawab anak perempuan itu sambil tersenyum
" nama aku salma, kamu ? sebentar lagi aku pindah rumah di sudimara" lanjut anak itu
" aku 486 kamu bisa dengar nama aku disebut disemua stasiun, oh itu bagus kamu bisa naik kereta setiap hari" jawab 486 dengan perasaan senang. karena ia ingat nama salma yang pernah diucapkan oleh 477 dan ia mengetahui siapa anak perempuan itu.
" ok aku turun disini, sampai ketemu lagi 486" ucap salma sambil menoleh sebelum benar-benar meninggalkan stasiuan
" sampai jumpa lagi salma " jawab 486 dengan suara lantang.
" jalur dua KA Masinis 486 dipersilahkan berangkat " suara pemberitahuan berbunyi nyaring sebagai tanda mempersilahkan 486 segera berangkat.
486 tidak sabar sampai di markas ia ingin segera memberitahukan 477 siapa yang baru saja dijumpainya. dalam hati ia penasaran bagaimana ekspresi 477 ketika ia memberitahukan hal tersebut.

Matahari sudah naik pagi hari ini, banyak orang berkumpul dimarkas untuk sekedar mengobrol ataupun bercanda. 477 berkeliling melihat-lihat kelompok orang-orang yang berkumpul dalam hatinya ia membenarkan perkataan ayahnya yang mengatakan bahwa kelompok ini bercerai-berai semuanya hanya berkumpul menurut kelompok kereta masing-masing. tapi ia juga tidak yakin bisa menyanggupi permintaan ayahnya untuk menyatukan kelompok kereta itu. selesai berkeliling ia menjauhi markas dan pergi ke kelompok anak perempuan dalam hatinya terbesit adakah anak perempuan disini yang sifat dan kelakuannya mirip seperti salma.
tiba-tiba saja waktu terasa berjalan lambat dari arah depan terlihat juli berjalan ke arah 477, matanya mencari kemana arah mata 477 tetapi 477 mengalihkan pandangannya ke kanan dan tubuh mereka hampir saling bersentuhan dan juli pun berlalu dengan wajah muram. didepan 477 melihat sosok gadis yang sepertinya ia kenali, gadis itu sedang berjongkok dan didepannya terdapat gerombolan gadis lain yang sedang tertawa cekikikan.
" ada apa ini ?" tanya 477 menegur gerombolan anak gadis tersebut yang tiba-tiba diam membeku. 477 menatap gadis yang sedang berjongkok mata gadis itu sembab dan nafasnya sesegukan menahan tangis.
" kau kenapa lagi ?" tanya 477
" aku sudah minta maaf kepada mereka tetapi mereka tidak membiarkan aku bergabung dan malah menghinaku " jawab gadis itu dengan suara gemetar
" pemimpin.. gadis sombong itu pantas diperlakukan begitu" salah seorang gadis dari gerombolan maju kedepan
" oh kau yang waktu itu, kenapa kau berpikir seperti itu ?" tanya 477
" eh.. itu.. karena dia sangat sombong.. iya kan teman-teman ?" jawab gadis itu disambut sorakan setuju dari gerombolan dibelakangnya
" jika aku yang bersikap sombong apa kalian akan memperlakukanku begitu ?" tanya 477 menusuk
" ti...tidak pemimpin.. itu tidak berlaku pada anda " jawab gadis itu terbata-bata
" kenapa itu tidak berlaku padaku ? karena jabatanku ? karena aku pemimpin ? karena gadis itu bukan siapa-siapa dan sendirian ?" pertanyaan bertubi-tubi yang di lontarkan 477 membuat mereka terdiam, termasuk gadis yang sedang menangis itu. dalam hatinya ada perasaan senang karena ada yang membelanya.
" dengar.." 477 terdiam sesaat sambil memandangi gerombolan gadis tersebut
" cara berpikir kalian persis seperti para manusia.. dan kalian jenis manusia yang serakah dan gila kelas sosial.. jika kalian berpikir begitu maka mulai hari ini gadis ini resmi menjadi adik angkatku.. sampaikan pada semua orang-orang dan teman-teman kalian jangan pernah menyentuh gadis ini atau kalian memang berniat cari masalah denganku" jelas 477 panjang lebar
gerombolan gadis itu membungkuk dan memohon diri untuk pergi tanpa berkata apapun beberapa dari mereka menoleh kebelakang memperhatikan 477 yang kini menatap gadis yang sedang berjongkok.
" mau sampai kapan kau begitu ?" tanyanya dan gadis itu langsung berdiri canggung menatap 477 dengan perasaan bingung dan malu
" terimakasih telah membelaku pemimpin " ucap gadis itu pelan
" hey... siapa namamu ? aku lupa namamu " tanya 477
" lia pemimpin.. " jawab gadis itu lagi
"lia mulai sekarang aku kakakmu jadi panggil aku kakak.. ok" 477 menyentuh kepala lia dengan tulus dan gadis itu tersenyum dengan perasaan senang.

Langit mulai meredup 477 kembali ke markas dengan perasaan yang agak ringan, dalam hatinya ia merasa bangga bisa menolong seseorang. nampak dipintu masuk markas terlihat seseorang berdiri bersedekap sambil bersandar pada sisi tembok sebelah kanan pintu masuk. ketika jarak diantara mereka mulai pendek, 477 sadar bahwa itu adalah salah satu anggota ekspress yang lumayan berpengaruh dalam kelompoknya, 477 tetap melanjutkan langkah dan berusaha tak menggubris kehadirannya.
"hey anak pungut" ucapan orang tersebut membuat 477 seketika menghentikan langkahnya sesaat setelah melewati pintu masuk.
"apa kau bilang barusan?" tanyanya mempertegas hal yang sudah jelas ia dengar, ia mencoba meredam emosi dan mengepalkan tangan rapat rapat.
"gue bilang anak pungut, lo itu anak pungut yang dikasianin sama aris dan diangkat jadi pemimpin, padahal lo gak punya skill apapun"
477 berbalik seketika berlari mencengkram leher orang tersebut hingga orang tersebut kaget dan mendorongnya.
"dasar brengsek" ucapnya sambil terengah-engah setelah cengkraman 477 berhasil ia lepaskan.
"asal lo tau gw gak berharap sedikitpun jadi pemimpin apalagi harus mimpin orang kayak lo" 477 tidak sadar bahwa emosi membuat kata elo dan gue keluar dari mulutnya begitu alami.
"gue juga gak sudi dipimpin bocah baru gede, cuihh
perkelahian yang tak terelakkanpun terjadi, baku hantam hingga membuat nafas keduanya tersengal-sengal.
"gw juga denger lo sering ke tempat manusia, lo berharap jadi salah satu dari mereka yaa.. hahaha gak waras lo
mendengar ucapan tersebut membuat 477 gelap mata, darahnya mendidih dan ia lupa pada janji yang telah ia buat pada aris.
matanya dipenuhi kebencian mendengar orang didepannya menghina hobby nya yang pergi ke dunia manusia. tubuhnya tak terkontrol bergerak sebagaimana insting bertahan hidup nya dulu dihutan, ia secara membabi buta memukul dan menghantam kepala lawannya ketanah, bahkan saat lawannya mulai teriak dan meminta ia untuk berhenti.
telinga nya bak tertutup rapat, matanya telah buta dan tanpa sadar lawannya tak lagi berkutik.
orang beramai ramai keluar dari markas menyaksikan pemimpin baru mereka berlumuran darah duduk bersandar di samping mayat yang tak lagi bernyawa. mereka ramai berbisik-bisik mengomentari apa yang ada dihadapan mereka. sebagian merasa takut dan gemetar dan sebagian lagi merasa takjub.
Kedatangan aris membuat semuanya tiba tiba hening, aris berjalan dan kini berdiri tepat didepan 477 yang sedang duduk dengan tatapan kosong.
tak berselang terdengar suara teriakan

" ya tuhan jimiii... jimiku" orang itu adalah ketua ekspress yang bernama edi, dia histeris melihat adiknya tak lagi bernafas.
"anak anda melakukan ini, anda akan diam saja tuan aris" ucap edi dengan nada menusuk
"kau tau kematian didunia kita adalah hal yang biasa, bahkan mayat adikmu sebentar lagi akan lenyap dengan sendirinya, Walaupun aku tak membenarkan apa yang dilakukan 477, jangan berlebihan dan jalani saja tugasmu"
"saya tidak terima adik saya mati, walaupun kita bukan manusia, apakah semudah itu kematian bagi anda tuan aris ?"
"benar semudah itu bagi dunia kita edi, pergi dan urusi saja kelompokmu, aku akan urus anakku sendiri dan jangan campuri" jawaban aris tak lagi berani dibantah oleh edi dia menyuruh 
beberapa anggota ekspress lainnya untuk mengangkat mayat jimi ke markas ekspress.
pandangan tak lepas dari 477 yang masih saja duduk tak bergerak sampai ia pergi meninggalkan lokasi kejadian.

"yang lain bubar" ucap aris dengan nada tegas
kerumunan yang menonton pun bergegas pergi sambil sesekali mencuri pandang ke arah 477.

"Aku khilaf ayah, maafkan aku" ucap 477 pelan, ia bahkan tak berani mendongak ke atas menatap ayahnya
"berdiri... berdiri sekarang juga
477 sadar betul apa yang akan ia hadapi, dengan tangan dan kaki bergetar ia mencoba bangkit dari duduknya dan bediri berhadapan dengan ayahnya.
pukulan keras didaratkan pada perutnya dan membuat ia jatuh tersungkur kebawah, darah kental keluar dari mulutnya.
"berdiri" ucap aris lagi. 477 kembali berdiri dengan susah payah sambil memegangi perutnya, rasa sakit tak tertahankan terlihat jelas pada wajahnya. aris mendorong 477 hingga tersudut ke tembok pembatas markas, jari telunjuknya mendarat didada 477
"sekali lagi kulihat atau kudengar kau membunuh, akan kupatahkan tangan dan kakimu... ingat daniel kau berada di wilayah ku dan aku adalah ayahmu sekali lagi kau mengacau akan kupastikan kau takkan keluar hidup hidup dari sini.. bahkan jangan anggap aku ayahmu lagi"
ucapan aris yang begitu menohok seketika 477 bergetar menahan gejolak rasa sedih sekaligus takut secara bersamaan.
aris pergi begitu saja meninggalkan 477 sendirian, tak lama kemudian datang david berlari lari
"ya tuhan 477 apa yang terjadi ? kudengar kau membunuh orang" david begitu mengkhawatirkan keadaan kakaknya, dia tak bisa menggubris semua luka yang ia lihat pada tubuh kakaknya
selang berapa lama 918 datang menyusul membopong 477 bersama David melewati pintu masuk markas. 
sebagian yang berada didepan markas menatap mereka bertiga yang berusaha pergi kekamar asrama. sesampainya didepan kamar 477 meminta mereka melepaskannya ia merasa bisa masuk sendiri ke kamar. David dan 918 pun tetap ikut masuk ke kamar 477 tanpa bicara apapun.
kamar 477 hanya terdapat kasur dan lemari dengan jendela menghadap sisi kanan pembatas markas. 
ia langsung duduk dikasur dan diikuti dengan david dan 918
"sekarang apa, pergilah aku ingin sendiri" ucap 477 lemah
"aku akan ambilkan obat untukmu boss, kau harus cepat pulih" ucap 918 seraya bangkit dan bergegas pergi keluar kamar
David hanya menatap kakaknya dengan tatapan penuh arti, sebenernya banyak pertanyaan yang ia akan ajukan soal kenapa kakaknya berkelahi sampai membunuh orang. dia tak pernah membayangkan hal itu dilakukan oleh kakaknya. 
tapi dia akan simpan semua pertanyaan itu karena ada hal lebih penting yang ingin ia sampaikan pada kakaknya
"477... aku tau kau mungkin sedang tak ingin diganggu tapi aku ingin memberitahu sesuatu yang akan membuatmu menjerit saat ini juga"
ucapan david membuat 477 langsung menatapnya tajam dan penuh tanda tanya
"lanjutkan 486" ucap 477 masih terdengar lemah
"hari ini aku bertugas dari serpong ke tanah abang, dan aku bertemu seorang anak kecil manusia memakai pakaian SD yang ternyata bisa berbicara denganku" david sengaja menekankan kata manusia dengan maksud memberikan petunjuk pada 477
"kau tidak sedang bercanda kan?" tanya 477 dengan lebih bersemangat dari sebelumnya ia sedikit terkejut mendengar itu
"kau tau tidak siapa nama anak itu ?...
ucap david tanpa menunggu jawaban dari 477
ia langsung menyambar
"namanya salma iskandar" seketika 477 terbelalak jantung nya berpacu dengan cepat, dia bahkan tak sempat berpikir, tiba tiba kepalanya terasa ringan dan penglihatannya pun menjadi gelap dan ia jatuh pingsan.


Minggu, 01 Januari 2017

Kebosanan yang membahagiakan

Malam ini tidak seperti biasanya walaupun waktu sudah memasuki tengah malam, markas terlihat ramai dengan kerumunan penonton yang sedang menyaksikan pertarungan menarik. Yang menarik untuk mereka bukan tentang bagaimana pertarungan itu berjalan tetapi untuk melihat pemimpin baru mereka mengalami kekalahan dalam pertarungan tersebut. walaupun mereka tak menunjukan ekpresi mereka tetapi dalam hati mereka terbesit perasaan senang melihat pemimpin baru mereka yang terkenal akan kesombongannya itu mengalami kekalahan telak.
477 duduk bersandar dengan nafas terengah-engah, ia memperhatikan andre yang menjadi lawan bertarungnya dengan seksama. ia heran sekaligus kagum bagaimana andre bisa memiliki kecepatan dua kali dari dirinya. dulu ia berpikir bahwa ia yang tercepat bahkan lebih cepat dari pergerakan singa singa yang pernah di lawannya tetapi ia salah karena ia menemukan lawan yang bahkan tak bisa ia sentuh dengan ujung jarinya.
" cukup sampai sini latihannya " ucap andre seraya menjulurkan tangan untuk membantu 477 berdiri
" ka andre itu tadi bukan latihan, itu hanya pertarungan yang tak seimbang dan itu bahkan tidak bisa disebut pertarungan" ucap 477 menyambut tangan andre.
" aku ingin kau terbiasa dulu dengan kecepatanku setelah perlahan-perlahan kau mampu menyamai kecepatanku baru kita akan memasuki latihan yang sebenarnya" ucap andre, senyum simpul terlihat diwajahnya kemudian ia menepak bahu 477 dan meninggalkan arena latihan.
" bagaimana ?" juli tersenyum dan memberikan handuk kepada 477, seketika kerumunan perlahan-lahan membubarkan diri.
"apanya yang bagaimana ?" 477 tersenyum menatap juli seraya membersihkan wajahnya dengan handuk.
" sepertinya masih jauh dari harapan hahaha " 918 menyela pembicaraan mereka sambil menyodorkan air putih kepada 477
" hahaha iya aku harus latihan beberapa tahun lagi mungkin" jawab 477 menyambut air pemberiannya
" 918 aku sedang berbicara dengan bossmu bisa beri kami waktu" ucap juli dengan nada memohon
" OH hahaha baiklah untuk kalian yang sedang di mabuk cinta aku persilahkan" jawaban 918 membuat wajah juli merona tetapi ia tak  berkata apa-apa.
" benarkah ?" tanya 477 menatap juli dengan raut penasaran
" Apa ?" tanya juli sambil membuang muka
" Aku tidak merasa sedang mabuk, tapi memang cinta" ucapan 477 membuat juli kembali menatap wajahnya, ekpresinya tidak dapat ditebak.
" ada apa ?" tanya 477 tatapan wajahnya berubah menjadi serius.
" ini terakhir kalinya aku bisa bertemu denganmu 477" ucapnya perlahan sambil menunggu reaksi 477 yang tetap diam tak bergeming
" mereka tidak suka denganmu 477, kau pasti tau aku adalah bagian dari Ekpress, mereka melarangku berhubungan denganmu lagi" lanjut juli lagi sambil menggenggam tangan 477
" tapi aku juga mencintaimu bisakah kau tunggu aku ? aku akan menjelaskan pada mereka situasi di antara kita" nada juli memohon dengan tulus.
" kenapa kau tidak pindah kelompok ke tempatku ?" tanya 477 mendesak
" tidak bisa, mereka berarti untukku 477 " ucap juli lagi
" aku tidak seberarti mereka untukmu ?" 477 menarik tangannya dari genggaman juli, nada suaranya berubah dingin.
" bukan itu maksudku 477, mereka sudah menjadi bagian dari hidupku cukup lama, aku tidak bisa kehilangan mereka. mengertilah" juli terdengar seperti ingin menangis tetapi hal itu tidak mempengaruhi 477
" aku tidak harus menunggumu dan aku tidak mau melakukan itu, jika itu keputusanmu maka memang tidak seharusnya kita bersama" ucap 477 lagi dengan nada sedikit ketus, sangat jelas terlihat bahwa ia emosi tetapi ia berusaha menahannya.
" kau begitu egois 477, kau jahat" ucap juli sambil mulai menangis.
" aku memang egois , begitulah diriku. jangan bilang kau lupa apa yang mereka telah lakukan pada adikku ? " jawaban 477 begitu dingin, juli tidak berkata apa-apa lagi dan ia pergi sambil menangis. percakapan dengan juli membuat 477 merasa sesak ia keluar meninggalkan markas dan berjalan menyusuri jalan setapak di sepanjang rel kereta api.
Jalanan setapak nampak sepi hanya sebagian orang berlalu lalang itupun minim percakapan. 477 memperlambat langkah kakinya ia merasa mendengar suara anak perempuan yang cukup ramai, kemudian ia menghentikan langkahnya ketika melihat dua orang anak perempuan berkelahi berusaha meraih rambut lawannya masing-masing, sedangkan tiga orang yang lain hanya menjadi penonton dan menyemangati salah satu dari mereka. kemudian 477 bergegas menghampiri mereka dan melerai mereka. dua orang perempuan itu menatap 477 dengan tatapan heran tetapi salah seorang dari mereka mengenali 477
" pemimpin" ia membungkuk sedikit sambil merapikan rambutnya yang berantakan.
" kenapa kalian berkelahi ? apa kalian berusaha merontokkan rambut kalian masing-masing ?" tanya 477
" dia..." tunjuk anak perempuan yang sedari tadi membungkuk. tatapan 477 beralih kepada anak perempuan yang sedang bersedekap membuang muka.
" hey nona kenapa kau berkelahi ?" tanya 477 dengan nada bersahabat
" mereka mulai duluan melempariku dengan tanah" jawab anak perempuan itu tanpa menatap 477
477 kembali mengalihkan tatapannya ke anak perempuan yang pertama tanpa berkata apa-apa seakan menunggu penjelasan
" kami berusaha baik-baik mengajaknya bergabung dalam kelompok kami tapi ia bilang aku tidak mau bergaul dengan gadis jelek, maka dari itu kami marah dan melemparinya tanah" penjelasan anak perempuan itu membuat 477 sedikit geli menahan tawa tetapi ia mengalihkan tatapannya ke anak perempuan kedua itu.
" kau merasa cantik nona ?" tanya 477 dengan nada serius
" tentu saja, bergaul dengan mereka akan merendahkan harga diriku" anak perempuan itu menatap 477 dengan tajam
" kalian dengar apa kata dia kan ?" tanya 477 kepada empat anak perempuan lainnya tanpa mengalihkan pandangannya dari anak perempuan sombong tersebut.
" pergilah, aku akan mengurus gadis ini" lanjut 477, empat perempuan tersebut pergi dan memohon diri tanpa berkata apa-apa lagi.
" jadi... kau mau mengajariku cara mengukur tinggi rendahnya harga diri ?" tanya 477 sambil menatap anak perempuan sombong tersebut. anak perempuan itu diam dan tatapannya beralih ke tanah.
" kau boleh berpendapat seperti itu nona, itu hakmu dan aku tidak akan ikut campur pada keputusanmu itu. dan jika kau tidak ingin mengajariku caranya maka simpan itu untuk dirimu baik-baik " 477 bermaksud mengakhiri pembicaraannya dan ia berbalik berjalan meninggalakan anak perempuan itu
" maaf siapa namamu nona ?" tanya 477 kembali berbalik menatap anak perempuan itu dari kejauhan
" Lia " jawab anak perempuan itu dingin
" Lia jika aku boleh memberikanmu pendapat, harga dirimu dan caramu itu akan membuatmu tak mempunyai teman sampai kapanpun" ucapan 477 membuat lia terkejut dan shock sontak ia menangis pelan sambil sesegukkan, 477 meninggalkannya sendirian dan kembali ke markas.

Pagi itu 477 sedang bebas tugas ia merasa bosan dan memikirkan cara untuk menghilangkan kebosanannya tersebut
" kudengar kau putus dengan juli " david mengusik lamunannya
" kapan aku bilang dia pacarku ?" jawab 477 dingin
" 477 aku mulai bertugas hari ini mulai sekarang panggil aku 486 " ucap david kemudian
" selamat kalau begitu, bagaimana kau suka kereta barumu ?" tanya 477 sambil tersenyum tulus
" persis seperti milikmu hanya saja milikku berwarna oranye " jawab david
" Oh aku tau yang itu, pilihan yang bagus" david kemudian terdiam sesaat
" kau tidak marah padaku ?" tanyanya kemudian
" marah untuk apa ?"
" aku membuat masalah dengan ekpress, kau belum mengajakku bicara semenjak kejadian itu" jawab david pelan terdengar nada penyesalan didalamnya
" Tidak, aku malah tau satu hal karena hal itu" ucap 477, terselip nada meledek pada ucapannya
david hanya menaikkan alis sebagai tanda bertanya
" itu berarti kau perduli padaku " jawabnya sambil tertawa terkekeh, david ikut tertawa pelan
" aku bersikap seperti anak kecil, aku benar-benar menyesal" ucap david lagi
" memangnya kau sudah dewasa ? kau masih 10 tahun 486, kau masih kecil " 477 tertawa lagi sambil menepuk bahu david. david menunjukkan ekpresi sedikit kesal tetapi akhirnya ia iku tertawa bersama 477
" aku bosan sekali disini " ucapan 477 memecah tawa diantara mereka berdua
" apa yang ingin kau lakukan ? " tanya david mulai serius
" Entahlah, aku ingin menjadi manusia" jawab 477 asal
" kenapa tak pergi ke sekolah manusia, toh mereka tak dapat melihatmu" ucapan david membuat 477 sedikit bersemangat tetapi kemudian ia teringat perkataan ayahnya
" ayah bilang manusia berbahaya, menurutmu apa yang membuat mereka berbahaya bagi kita yang bahkan tak terlihat ?" tanya 477 pada david seakan mengajak berdiskusi
" hmmm... menurutku mungkin ayah takut kita iri kepada manusia atau meniru sifat buruk mereka " jawab david sambil sedikit bergumam
" cukup masuk akal, itu berarti aku boleh pergi ke sekolah menurutmu ?" tanya 477 sedikit ragu
" kenapa tidak ? kau pemimpin sekarang kau bisa lakukan apapun " david menyikut 477 pelan
" jangan katakan pada siapapun, ini rahasia kita berdua, Ok " ucap 477 pelan seperti berbisik
" Entahlah aku tidak berjanji " jawab david sambil tertawa dan meninggalkan 477 sendirian.
Hari mulai terik dan matahari mulai naik, 477 bersiap mencari sekolah terdekat dari stasiun, sekolah pertama yang ia masuki adalah SDN 01 kampung bali jakarta pusat Tanah abang, Entah kenapa ia tertarik mencari sekolah dasar daerah jakarta, ia masuk kelas dan mengikuti pelajaran tanpa diketahui para manusia, saat itu ia masuk kelas 3 dan mengikuti pelajaran dengan seksama. terkadang ia juga memperhatikan anak-anak laki seusianya bermain bola selama pelajaran olaharaga atau istirahat berlangsung.
setahun berlalu ia mengikuti anak-anak kelas 3 naik ke kelas 4 tetapi ia menginginkan suasana baru dan mencoba mencari sekolah lain untuk memperbanyak pengalamannya. sekolah yang ia kunjungi kedua adalah SDN Palmerah 04 Petang yang berada tidak jauh dari stasiun palmerah. ia masuk kelas 4 saat itu dan kembali mengikuti pelajaran dikelas tersebut.
saat istirahat berlangsung ia melihat seorang anak perempuan yang menarik perhatiannya bukan karena anak itu cantik tetapi karena tingkah laku dan kepribadian anak tersebut. anak tersebut memiliki sifat yang unik dia egois, keras kepala dan sensitif tetapi ia mampu menutupi sifat tersebut layaknya seorang artis professional yang sedang berakting. hal itu tidak dapat 477 pahami bagaimana seseorang yang egois dan keras kepala seperti dirinya bisa bersikap perhatian terhadap temannya dan bahkan mendapatkan teman serta menjadi dominan dalam kelompoknya tersebut. semakin 477 memperhatikannya ia semakin tertarik pada anak tersebut bahkan sampai mengikutinya pulang ke rumah. dirumah anak perempuan tersebut nampak berbeda 180 derajat dari disekolah, ia begitu tomboy, jail dan cukup suka mencari masalah dengan tetangganya. 477 terkadang hanya bisa tertawa melihat tingkahnya yang begitu menyebalkan bila di lihat orang lain tetapi menghibur dirinya.

" gw males ikut pramuka" ucap salah seorang teman anak perempuan itu yang bernama santy
" iya males banget lagi sepi" sambung anak perempuan itu menyetujui
" kita kabur aja yuk sal" ajak santy kepada anak perempuan tersebut
" salma elu kan ketua regu" potong salah satu temannya yang bernama ika
" iya juga sih" jawab anak perempuan tersebut yang ternyata bernama panjang salma iskandar
" gpp ko, lagi gak ada kakak pramuka ini" bujuk santy lagi
" ayuk deh berapa orang jadinya ?" tanya salma kepada teman-temannya
" gw ikut" jawab ika dan astrid yang kebetulan arah rumahnya satu arah
" ya udah pada ambil tas yaa, ntar pas sampe gerbang langsung pada lari" ajak santy kepada yang lainnya. yang lainnya menyetujui dan mereka semua berangkat berlima. ketika mereka sampai gerbang salah seorang anak guru yang juga teman sekelasnya bernama fahmi melihat dan mengejar mereka bersama dengan beberapa anak dari kelas tiga. salma dan teman-temannya berlari sekuat tenaga hampir satu kilometer melewati rumah ika dan astrid, sayangnya ika dan astrid tertangkap fahmi dan terpaksa kembali ke sekolah. salma yang mengikuti jalur lari santy dan farida lolos dan akhirnya mereka bertiga berpencar dan pulang ke rumah masing-masing.

"ko udah pulang yah ?" tanya sang ayah ketika salma memasuki pintu rumah
"iyaa gak pramuka pak, jadi pulang cepet" jawabnya berbohong, saat itu jantungnya berdebar bercampur aduk antara perasaan takut ketahuan dan takut akan hukuman besok disekolah. dalam hati ia bertanya-tanya apakah hanya dirinya yang tidak tertangkap atau ada lagi temannya yang lolos.

pagi itu suasana tegang menyelimuti kelas tiga, salma dan teman-teman sepelariannya berdiri didepan kelas menghadapi walikelas mereka yang bernama pak iwan. mereka semua di interogasi dengan perasaan takut dan menyesal
" siapa yang ngajak ?" tanya pak iwan kepada farida
" salma pak" jawab farida yang membuat salma hanya bisa menelan ludah
" kamu siapa yang ngajak ?" tanya pak iwan kepada ika dan astrid dan mereka menjawab dengan pertanyaan yang sama dengan menyudutkan salma.
" kamu yang ajak ?" tanya pak iwan kepada salma dengan nada menekan, salma bisa merasakan jantungnya memburu hingga membuat perutnya terasa mulas
" iya saya yang ajak pak, tapi yang punya ide santy pak" jawab salma dengan suara bergetar dengan pandangan menunduk ke lantai
" santy kamu yang punya ide ?"tanya pak iwan kepada santy, ia hanya mengangguk lemah dan pasrah
hari itu mereka dihukum dan mendapat bully dari teman sekelas lainnya. dan hal itu pula membuat santy merasa sedikit kesal terhadap salma akan perkataannya yang menunjuk ia sebagai oang yang membuat ide. sejak kejadian itu hubungan mereka agak sedikit renggang tetapi mereka tetap berteman dan berangkat sekolah bersama.
477 tidak sadar bahwa selama berhari-hari ia memperhatikan salma jantungnya ikut berdebar ia merasa takut sekaligus perduli saat insiden pelarian itu. ia tidak sadar bahwa rasa perdulinya melebihi dari yang seharusnya dan ia hanya berharap seandainya ia adalah manusia maka dia ingin sekali berbicara dengan salma walau hanya sekali. ia tidak sadar jantungnya memburu hanya dengan memikirkan salma dan itu tidak terjadi saat ia bersama dengan juli, ia tidak sadar saat ia tidak ikut pelajaran kelas empat dan malah ikut masuk ke kelas tiga hanya untuk melihat salma bersama teman-temannya.

" kau tersenyum sendiri, apa ada hal yang bagus ?" tanya 918 memotong lamunan 477 saat itu
" iya aku merasa hidup akhir-akhir ini" jawabnya sambil tersenyum
" apa yang membuatmu begitu ?" tanya david yang tiba-tiba menghampiri mereka
" Entahlah, aku memikirkan seseorang dan hanya dengan itu saja membuatku senang" jawab 477 sambil menerawang ke langit
" Ohh " sambut david seakan menangkap kata-katanya
" apa yang kalian ketahui dan aku tidak ?" tanya 918 dengan nada dibuat kesal
" 477 sepertinya menyukai seseorang" jawaban david  membuat 477 sedikit terkejut, tetapi ia tidak berkata apa-apa
" juli kan ? " tanya 918 dengan penuh keyakinan
" bukan, seorang manusia " bisik david pelan
" heh ??? " balas 918 terkesiap
" kau benar 486 sepertinya aku menyukai gadis itu" jawab 477 dengan nada sedikit canggung
" siapa namanya ?" tanya david dan 918 hampir bersamaan
" salma... namanya salma iskandar" ucapnya sambil tersenyum



Rabu, 30 November 2016

Percakapan dan wawancara

Percakapan dan wawancara 1.
Saat chapter "andre"
Aku : jadi apa cerita nya persis seperti aslinya ?
477 : sebenarnya hampir, hanya saja saat itu aku benar-benar kalah telak oleh ka andre tanpa perlawanan sedikitpun. Jadi sebenernya gak ada adegan kerah baju robek dan teriak minta ia melepaskanku.
Aku : kau benar-benar kalah dalam sekali pukul
477 : itu kan dulu, sekarang dia tidak punya kesempatan sama sekali
Aku : dasar egois, kalah gak mau ngaku
477 : hahaha
Percakapan dan wawancara 2
Saat chapter "pemimpin yang dibenci"
477 : tolong jangan buat kisah cintaku dan juli seperti itu (muka memohon)
Aku : kenapa ? Memang seperti itu kan ?
477 : aku bukan tipikal yang akan menggoda cewe duluan
Aku : Oh yaa ? (masang muka gak percaya) lalu maksudmu aku menggodamu duluan begitu ?
477 : hehehe (terkekeh) tidak itu aku yang mulai, aku menyukaimu duluan
Percakapan dan wawancara 3
Chapter yang (belum mulai)
477 : aku tidak sabar menantikan cerita saat kau bertemu denganku pertama kali
Aku : 486 duluan
477 : aku tau, tapi buktinya kau milikku sekarang
Aku : itu karena kau curang 477
477 : curang bagaimana ?
Aku : pokoknya curang
Percakapan dan wawancara 4
Aku : apa kau pernah melawan ayahmu ?
477 : tidak pernah, aku takut padanya. Hmm sebenarnya lebih ke dalam rasa hormat ehh tetapi aku juga takut padanya
Aku : (menatap heran) jadi belum pernah ?
477 : belum, tetapi dia sering memaksaku berkali-kali untuk tanding dan aku memilih kabur saja
Aku : (tertawa)

Kamis, 24 November 2016

Andre

Pagi itu suasana tegang menyelimuti markas besar bogor. Banyak yang berkerumun disekitar markas, mereka menyaksikan kejadian yang tak terduga dan cukup membuat mereka terkejut dan begitu juga 477.
Pikirannya tak karuan setelah melihat luka lebam dan darah disekujur tubuh adiknya yang tak sadar. matanya memicing tajam menatap orang-orang didepannya yang sedang berburu nafasnya.

"Siapa yang melakukan ini ?" Tanyanya dengan pandangan menusuk. dan tiga orang didepannya maju ke hadapan 477 berbicara dengan nafas berat.
"Kami yang melakukannya" ucap salah satu diantaranya. tubuh mereka bertiga jauh lebih tinggi dari 477 yang ketika itu masih 13 tahun.
"Beraninya kalian" teriaknya keras.
Dengan cepat satu hantaman keras mendarat di wajah orang yang berbicara sebelumnya. tubuhnya mundur satu meter sebelum akhirnya jatuh tersungkur.
Dua orang sisanya siaga mengambil ancang-ancang dan bersiap menghadapi 477. Tetapi mereka kalah dalam kecepatan dan akhirnya ikut jatuh tersungkur. 918 yang sebelumnya terpaku karena shock mulai sadar dan tau apa yang harus dilakukannya. Ia berlari mengejar 477 yang sedang mencari sasaran dari kelompok ekpress lainnya, dan dengan cepat menarik lengan 477 dan menghentakannya cukup kencang.

"Cukup 477, tenanglah" ucap 918
"Jangan ikut campur" balas 477 seraya menarik tangannya dari genggaman 918 dengan kencang.
"Kau akan membuat masalahnya jadi rumit" ucap 918 dengan nada menasehati.
Tetapi 477 tidak mendengarkan dan kembali maju mengejar anggota ekpress yang lain, sampai ia berhasil menarik salah satu diantara mereka dan menyeretnya sepanjang jalan ketika ia hendak melayangkan satu pukulan terakhir tiba-tiba tubuhnya terlempar ke pojok markas dengan keras, kepalanya membentur tiang yang terbuat dari tembok dan ia jatuh tersungkur ke tanah.
Orang-orang shock dan hanya menatapnya ngilu begitu juga 918 yang tak bisa berbuat apa-apa.
Ditengah kebingungannya 477 membuka matanya dan melihat siapa yang berdiri didepannya. seseorang dengan berbadan lebar dan tinggi menatapnya tajam. Orang itu menarik kerah 477 dan membuatnya melayang diudara.
"Siapa kau ?, Apa yang kau lakukan, cepat lepaskan aku" ucap 477 dengan keras. Orang itu tidak menyahut dan mendorong tubuh 477 ke tembok.
"Kau berada diwilayahku, jangan berani berkata seperti itu padaku" ucap orang itu kemudian.
"Cepat lepaskan aku atau aku akan menghajarmu" balas 477 lagi.
"Coba saja" tantang orang itu. 477 berusaha melepaskan cengkraman kerahnya dari orang itu tetapi semakin ia berusaha lehernya terasa sakit hingga akhirnya ia merobek kerah bajunya untuk meloloskan diri dari orang itu.
477 telah lepas ia mundur beberapa meter dari orang tersebut.
Ia sadar akan aura yang tidak biasa dari orang tersebut, 477 siaga dan mencoba berkonsentrasi pada pertarungannya, ia mengacuhkan orang-orang disekitarnya dan fokus untuk mencari celah dan kelemahan lawannya. Kemudian ia bergerak secepat kilat berlari ke belakang lawannya dan mencoba  melayangkan pukulan untuk menghantam kepala orang tersebut, tetapi orang tersebut dengan cepat berbalik mengikuti pergerakan 477 dan bergerak secepat kilat kebelakang 477 kemudian hantaman keras didaratkan pada tengkuknya. Seketika 477 jatuh tersungkur dalam keadaan tengkurap. Pandangannya kabur dan tenaganya untuk bangkit menghilang seketika. kemudian orang itu menarik kerah belakang 477 dan menyeret 477 yang setengah sadar ke pojok tembok markas.
"kau bilang akan menghajarku bukan ?" Ledeknya pada 477 yang menatapnya dengan pandangan lemah. Orang itu kembali mengangkat 477 ke udara, kali ini ia mencengkeram lehernya secara langsung. 477 kesulitan bernafas dan tubuhnya bergetar kejang.
"Kumohon hentikan" teriak juli yang tiba-tiba berlari menghampiri. 918 ikut menghampiri dan memegang tangan orang itu dengan pandangan memohon.
"Hentikan Andre" suara Aris terdengar dan langkah kakinya membuat susasana hening. Seketika orang yang dipanggil andre tersebut melepaskan cengkraman pada leher 477. Dan 477 pun jatuh tersungkur tak sadarkan diri.

Langit telah gelap ketika 477 membuka matanya, ia berada dikamarnya dan terkejut dengan posisi duduk, disebelahnya David tertidur dan lukanya telah diperban. 477 melangkah keluar kamar dan mendapati Ayahnya sedang mengobrol dengan orang yang mengalahkannya tadi pagi. tetapi anehnya 477 tidak merasa dendam, ia berjalan ke arah Ayahnya dan berdiri disampingnya.
"Maafkan aku yang telah lepas kendali ayah" ucapnya sambil menundukkan kepala.
Ayahnya bangkit berdiri dan menatap 477 dengan tatapan yang tak bisa ditebak. kemudian tangan nya melayang menampar 477 dengan keras. dan 477 tak bergeming ia diam menerima tamparan tersebut.
"Aku menjadikkanmu pemimpin bukan untuk melihat kau bertindak sesuka hatimu" ucap Ayahnya dengan nada menghakimi.
"Aku mengerti ayah" balas 477
"Baiklah" sang ayah menepuk pundak 477 dengan pelan dan kembali duduk di kursinya.
"Dia andre, dia akan melatih mu bertarung, hormati dia" ucap sang ayah.
"Baik Ayah" jawab 477 dan menundukan kepalanya sambil menatap andre.
"Maaf aku bersikap kasar padamu" ucap andre sambil tersenyum.
"Itu kesalahanku, mohon bimbinganmu" balas 477 tulus. Andre mengangguk pelan dan 477 undur diri untuk kembali ke kamarnya.
Dalam pikirannya terbayang pertarungan nya melawan andre yang tak seimbang.
Didepan pintu kamarnya berdiri 918 terseyum sambil bersedekap.
"Jadi boss ?" Ucapnya dengan nada meledek.
"Aku akan menunjukan padamu ketika aku menghajarnya suatu saat nanti" ucap 477 sambil tersenyum. Kemudian mereka tertawa dan mengobrol sampai larut.

Selasa, 22 November 2016

Pencarian

Cuaca terlihat cerah hari ini, dan sebagian mungkin berpikir terlalu terik dan menyengat.
Penghuni di markas sedikit lebih ramai dari biasanya dikarenakan cuaca terik yg cukup membuat mereka enggan untuk keluar, termasuk 918 dan teman-teman satu kelompok KRD.
Sekilas terlihat biasa saja tetapi tidak ada yang sadar jika 918 sedang siaga penuh, ia memasang telingangnya lebar lebar mendengarkan pembicaraan orang-orang mengenai insiden pemukulan pemimpin baru mereka. Namun ekpresi 918 cukup sulit ditebak, tak ada seorangpun yang tau apa yang sedang berkecamuk dalam kepalanya.
"Ehemmm..." Terdengar suara dehaman pelan dari arah belakang, 918 segera menoleh dan mendapati david di seberang markas yang sedang memberikan aba-aba untuk mendatanginya. Kemudian ia bangkit meninggalkan kerumunan teman-temannya.
"Ada apa ?" Tanya 918 pelan
"Ini memang belum pasti tapi perasaanku mengatakan pelakunya berasal dari kelompok ekspress" bisik david pelan. 918 menaikkan alisnya tanda bingung dan david segera melanjutkan
"Kau ingat lukman dengan kode 211 yang dikalahkan 477, ternyata ia berasal dari kelompok ekpress"
"Aku tau itu" balas 918 seraya memegang bahu david dan mengajaknya berbalik membelakangi markas.
"Aku berpikiran sama denganmu, maka dari itu aku tetap dimarkas dan menyelidiki pembicaraan mereka diam-diam"
"Kenapa tidak langsung menjelaskan tujuan kita, mereka juga tau tentang insiden itu" david sedikit menekankan nada suaranya
"Benar, tapi 477 memintaku untuk menyelidiki diam-diam tanpa kecurigaan sedikitpun" jelas 918. Ketika david hendak membalas perkataannya 918 kembali melanjutkan
"Dengar david kita tidak boleh bertindak sembarangan, jika mereka tau kita sedang menyelidiki insiden itu maka pelaku diantara mereka akan bertindak dengan hati-hati seolah tidak bersalah. tetapi, jika penyelidikan kita tidak diketahui pelaku akan berpikir kasus ini tidak begitu berarti dan ada kemungkinan dia akan menyerang 477 lagi, saat itulah kita akan menyergap dia" jelas 918
"Kau ingin 477 terkena serangan untuk kedua kalinya ? Hah " suara david sedikit terdengar lebih kencang dari yg seharusnya, dia menjadi sedikit emosi ketika mendengar penjelasan 918.
"Ini rencana 477, jika kau keberatan lebih baik kau tanyakan dia saja" 918 menepuk bahu david seraya berbalik meninggalkan david dan kembali ke kelompoknya.
"Aku benar-benar menyesal karena pergi sebelum kau siuman" Juli yang saat itu sedang mengikuti 477 bertugas kembali pada kebiasaannya mengayunkan kaki di salah satu tempat duduk.
"Aku tau" jawab 477
"Tau apa maksudmu ?" Tanya Juli
"Kau menyesal karena mungkin saja itu salahmu, mungkin ada yang cemburu melihat kita berdua" balas 477 terselip nada canda.
"Kau berpikir seperti itu ? " Juli kaget bercampur bingung tatapannya berubah serius.
"Mungkin saja" jawab 477
"Apa kau marah pada orang yg memukulmu ?" Suara Juli terdengar sedikit hati-hati.
"Sebaliknya justru aku merasa berterima kasih"
"Berterimakasih untuk apa ?"
"Jika ia tidak melakukan itu mungkin kau tidak akan hadir hari ini untuk mengkhawatirkan aku" balas 477 dengan nada meledek. Juli tertawa ringan dan raut wajahnya kembali hangat.
Juli menemani 477 bertugas sampai selesai dan Mereka kembali ke markas pukul 7 malam.
"Baiklah mungkin aku akan menemanimu lagi besok" ucap Juli sebelum benar-benar pergi.
"Sebaiknya iya, jika tidak mungkin aku akan seharian menunggumu" balas 477, ia tak sadar kata-kata tersebut mengalir secara alami dari mulutnya. Juli tersenyum mengangguk
"Aku benar-benar mengkhawatirkanmu loh" ucapnya dan ia menghilang pergi.
"Aku butuh penjelasan" 477 melirik david yang kemudian duduk di sampingnya.
"Apa?" Tanya 477 bingung
"Kenapa tidak selidiki secara terang-terangan agar tidak banyak membuang waktu ?"jelas david seraya menatap 477 tajam.
"Kenapa yaa ? Hmmm aku mungkin hanya ingin bermain-main terlebih dahulu" jawab 477
"Bermain-main ?"tanya david dengan nada tidak percaya
"Oh aku tau kau tidak punya waktu karena sibuk berpacaran" nada suara david terdengar sedikit kesal.
"Untuk apa kau bersikeras dengan semua ini ? Bukankah kau tidak peduli padaku ?" Ledek 477 pelan dan membuat David tak bisa berkata-kata. Kemudian 477 berdiri dan merapikan celananya.
"Satu lagi jangan campuri urusan pribadiku" lanjut 477 dengan nada dingin seraya pergi meninggalkan adiknya sendirian. Ia tidak tau jika kata-kata terakhirnya begitu menusuk dan membuat hati david terluka. Dan hal itu menjadi alasan akan insiden yang akan terjadi esok hari.
"477 aku punya kabar buruk" 918 terdengar panik.
"Ada apa ? tanya 477 sedikit acuh
"David di pukuli anggota ekspress, karena memaksa mencari pelaku di kelompok mereka"
Jelas 918 yang membuat 477 terkejut tak percaya.

Rabu, 03 Agustus 2016

pemimpin yang dibenci

Pagi itu 477 sudah berada dalam tubuh barunya yaitu KRL BN Holec berwarna biru yang sedang bersarang dimanggarai. ia mulai mencoba untuk terbiasa dengan besi bermodel centipede itu. ayah nya tidak ada disana untuk menemani percobaan pertamannya. masinis mulai membunyikan klakson tanda untuk bersiap berangkat ke serpong. kereta masih sangat kosong karena saat itu masih pukul 5 pagi. kemudian 477 sadar bahwa salah satu dari dirinya dengan sosok anak perempuan memakai dress berwarna gading naik ke dalam kereta.


 JULI


"kau gugup ?" tanya anak perempuan itu dengan lembut. ia sudah duduk dan mengguncang-guncang kakinya yang tidak menyentuh lantai.
"kenapa aku harus gugup " jawab 477 sedikit kesal. kemudian anak perempuan itu tertawa lembut.
"kau 477 kan ? aku mendapat tugas untuk menemanimu pada percobaan pertama ini" ucap anak perempuan itu sambil tersenyum. "ngomong-ngomong namaku juli" lanjutya lagi.
"siapa yang menugaskanmu ? tanya 477 dengan sedikit penasaran.
"diriku sendiri" jawab juli dengan mantap.
"hah ?" nada suara 477 mulai terdengar jengkel.
"aku memperhatikanmu saat peristiwa bertarungmu, sepertinya aku tertarik padamu.. hehehe" ucap juli sambil terkekeh. 477 tidak menjawab dan mulai berkonsentrasi karena kereta mulai berjalan. hanya terdapat delapan orang penumpang saat itu dari lima gerbong yang ada.
"bagaimana ? menyenangkan bukan ? ini adalah satu-satunya cara kita berinteraksi dengan para manusia secara langsung " juli turun dari kursi kereta dan meranjak ke arah pintu masuk. angin berhembus menerpa wajahnya yang putih dan membuat rambut panjang coklatnya berkibar.
"kau bisa jatuh " ucap 477 secara spontan.
"kau mengkhawatirkan aku ? hahaha 477 aku tidak akan mati, maksudku didunia kita tidak ada istilah mati" juli tertawa terbahak. 477 kemudian tersadar dan merasa bingung dengan ucapan spontannya. "lalu apa istilahnya ?" tanya 477 untuk melupakan perasaan bingungnya.
"kita biasa menyebutnya menghilang, itu karena kita tidak merasakan kematian seperti para manusia" jelas juli sambil mengubah posisi berdirinya ke arah kereta berjalan.
"hmmmm..."477 hanya bergumam menunjukan tanda mengerti.
"sepertinya kau akan terbiasa jagoan, jadi aku sampai sini saja" juli turun melompat ke peron saat 477 mulai memasuki stasiun sudirman.
"kau akan kembali ke markas ? tanya 477 sebelum juli melakukan transport cepat.
"benar" juli tersenyum lebar dan berbalik meninggalkan peron. dress gadingnya berkibar terhembus angin pagi. kemudian ia berbalik sebentar menatap 477
"477..." panggilnya dengan suara pelan. 477 diam memperhatikan
"waktu itu kau benar-benar keren sekali " ucapan juli membuat 477 sedikit tercenggang, tapi beberapa detik kemudian ia tersenyum tulus.
"semoga kita bertemu lagi" ucap 477 tulus.
"kita pasti bertemu lagi" ucap juli sebelum akhirnya menghilang.

Tak terasa beberapa stasiun sudah terlewati dan 477 sudah memasuki stasiun tanah abang, penumpang mulai membeludak memasuki kereta dan untuk pertama kalinya 477 merasa risih karena banyak sekali tangan yang memegang tubuh besinya. kemudian sebuah KRD  memasuki jalur empat tak jauh dari jalur enam tempat 477 berada.
"halo boss pemimpin" dari nada suaranya kereta yang satu ini sangat bersahabat.
"jangan panggil aku begitu" tolak 477 dengan suara dingin
"baiklah 477, kau ingat aku ?" tanyanya dengan nada riang.
"tentu saja, kau yang waktu itu memperingatkan lawan bertarungku 211, tapi aku tak tau namamu" balas 477. nada suaranya melunak.
"kau akan tau sebentar lagi" jawab KRD itu menahan tawa. 477 terdiam dan memikirkan apa maksud perkataannya. sampai kemudian speaker pemberitahuan berbunyi.
"JALUR EMPAT AMAN SILAHKAN BERANGKAT, KA MASINIS 918 DIPERSILAHKAN BERANGKAT" 918 mulai bergerak dan meninggalkan jalur empat perlahan, 477 tertawa pelan sambil menatap 918 dengan seksama.
"jadi bagaimana perasaan sentuhan manusia ?" 918 menahan senyum. 477 menangkap nada meledek pada suaranya dan membalas "rasanya seperti tubuhmu ditempeli bekicot" 477 menghela nafas dan tersenyum kemudian.
"kalau begitu aku punya saran untukmu 477" ucap 918 dengan nada serius. dan ia sudah berada sangat jauh meninggalkan peron.
"apa ?"477 mendengarkan
"anggap saja mereka semua cewe-cewe yang sedang merabamu..wahahaha" 
"kuhajar kau 918" teriak 477 dan akhirnya dia ikut tertawa terbahak. dalam pikirannya adalah ia menemukan seseorang yang akhirnya mampu membuatnya sedikit lebih hidup.
"bercanda boss"teriak 918 dan akhirnya menghilang dikejauhan.

percobaan pertama 477 terbilang lancar, hanya sesekali terdapat anggota express yang mencemoohnya karena tidak senang sebagai pemimpin. 477 hanya mengacuhkan mereka dan menikamti perjalanan pertamanya dengan perasaan senang, sebelumnya ia berpikir mengisi kereta adalah hal yang membosankan ternyata ia salah besar, walaupun perasaan sentuhan tidak menyenangkan untuknya tetapi itu membuatnya terasa hidup dan menjadi bagian dari kehidupan manusia. dan ia tidak akan melupakan pengalaman berharganya itu.

hari menjelang malam dan 477 sudah berada dimarkas dan duduk menikmati malam yang mulai dingin. terdengar suara langkah kaki dan ia mulai siaga dan mencari asal suara itu. tak lama kemudian juli muncul dari kegelapan dan terseyum simpul. 477 balas tersenyum dan memperhatikannya dengan seksama sampai juli benar-benar berada didepannya.
"kau pemimpin sekarang, harusnya kau memiliki pengikut bersamamu" ucapnya sambil menatap mata 477
"aku tidak perlu itu'' balas 477 santai.
"kau rindu padaku?" pertanyaan juli membuat 477  menilai bahwa dia sebagai orang yang terbuka dan jujur.
"kenapa kau berpikir begitu ?"jawab 477 dengan bingung.
"entahlah, feeling saja" juli tersenyum lebar.
477 tidak dalam keadaan siaga saat seseorang muncul dibelakangnya dan memukul kepalanya dengan besi panjang kemudian orang itu menghilang. yang ia rasakan adalah darah hangat mengalir dan kepalanya sudah berada ditanah. samar-samar terdengar juli berteriak dan menangis kemudian , semua nampak gelap baginya.

"siapa yang berani melakukan ini ?" david duduk disamping 477 yang sedang tidak sadar. tangannya mengepal dan matanya terasa terbakar. ayahnya duduk disebrang menunduk sambil memegang kepala. tak jauh dari sana 918 berdiri dan hanya melihat keadaan, ekpresinya tidak dapat ditebak. 477 mulai membuka matanya dan melihat wajah adiknya dengan datar, ia kemudian duduk dan menyentuh perban yang terdapat dikepalanya.
"kau tidak lihat wajahnya 477 ?" tanya david sambil memandang kakaknya.
"tidak"balas 477. kemudian pandangan matanya berkeliling mencari sosok juli yang seharusnya ada saat itu. "juli sudah pulang setelah mengobatimu" ucap 918 sambil menghampiri 477
"david.. 918.. tinggalkan kami berdua. ada yang harus aku bicarakan dengan 477" sang pemimpin bangkit sambil mejulurkan tangan ke arah 477, 477 menyambut tangan ayahnya untuk membantunya berdiri.
"baik tuan pemimpin" 918 memberi hormat dan pergi. david tak bersuara dan mengikuti perkataan ayahnya.
"sepertinya keputusanku mengangkatmu sebagai pemimpin salah besar" ucap sang ayah pelan
"aku tidak berpikir begitu"sahut 477
"lihat apa yang terjadi"sang ayah menepuk bahu 477 dan pandangannya beralih ke arah langit
"ini tidak lebih buruk dari serangan singa"ucap 477. sang ayah tertawa getir.
"kita akan cari tahu siapa yang melakukan ini"sang ayah berbalik dan menatap lurus kedepan.
"tidak ayah.. aku yang akan mencari tahu sendiri" jawab 477 dengan nada yakin.
"kau yakin?"sang ayah terdengar ragu.
"aku pemimpinnya sekarang dan ayah harus percaya padaku" ucap 477 sambil menatap tajam ayahnya. sang ayah tersenyum simpul. "beristrirahatlah 477" sang ayah pergi berlalu. kemudian 918 terlihat dan berjalan mendekati 477
"serahkan padaku aku akan membawanya kehadapanmu" ucap 918 dengan nada dingin.
"benar.. aku tak bisa membiarkan orang yang akan membunuhku berkeliaran begitu saja" jawab 477 dengan kesal. ia tidak sadar bahwa nafsu membunuh kembali menyelimuti dirinya.


Senin, 01 Agustus 2016

Si hati dingin

Masa lalu
Malam itu udara terasa menusuk tulang. Seorang bocah duduk dibawah pohon diantara hutan yang lembab. Matanya tertutup dan kepalanya mendongak ke atas. kantuk mulai menyerang dirinya sampai tiba-tiba kesadaran nya kembali karena merasa ada aura besar disekitarnya. Dia berjongkok tangannya siaga melebar, matanya menelusuri setiap sisi pohon dan semak.
"Graumm" suara auman jelas terdengar, bocah itu sadar apa yang akan ia hadapi, kemudian dari semak muncul singa betina mendekatinya perlahan.
Aura membunuh singa itu tiba-tiba menghilang ketika ia menatap bocah itu kemudian ia merebahkan tubuhnya di depan bocah itu dengan kepala menyentuh tanah.
Bocah itu mengendurkan kewaspadaan nya dan menatap singa itu dengan tatapan kosong. kemudian ia kembali pada posisinya memejamkan mata dengan kepala menengadah ke atas.
Singa betina itu bangkit dan mulai mendekati bocah itu, tapi bocah itu tak bergeming dari posisinya.
Singa itu mulai menjilati tangan nya dan membuat bocah itu kembali membuka matanya.
"Apa yang kau mau ? Aku juga tidak punya makanan. Jangan berharap padaku" ucap bocah itu sambil menarik tangannya.
Singa itu mengapit celana bocah itu dengan giginya sambil menariknya dengan perlahan.
"apa lagi ?" tanya bocah itu jengkel.
Singa itu kembali mengaum dengan pelan sambil tetap menggigit celana sang bocah.
"baiklah aku akan ikut denganmu" seakan mengerti kemauan singa, bocah itu langsung berdiri dan menepak celananya.
Singa itu menunjukan jalan, bocah dan sang singa berjalan menyusuri hutan yang gelap. Selang beberapa waktu, samar-samar terdengar suara musik dan keramaian orang, serta terlihat cahaya dari kejauhan.
Kelompok sirkus terlihat dengan jelas, kandang dengan berbagai macam hewan sirkus berderet di sepanjang jalan. beberapa orang memainkan musik dengan celo dan gendang dan sebagian dari mereka bernyanyi dengan riang.
Sang singa menunjukan jalan memutari keramaian menuntun bocah itu pada sebuah tenda besar dan api unggun di depannya. Terlihat tiga orang pria sedang membakar daging, dan 2 orang tidur dengan posisi duduk. Dibelakang tenda terdapat sebuah kandang yang terpisah,
Di dalamnya terdapat anak singa dengan luka bius. Anak singa itu mengaum lemah ketika mendapati sang ibu datang mengendusnya.
Pandangan sang bocah menyusuri tanah disekitar nya lalu ia berjongkok mengambil batu besar. Kemudian ia menghantamkan batu itu ke gembok pada kandang singa, membutuhkan sampai 3 hantaman dan gembok itu berhasil dirusaknya. anak singa itu keluar dan menghampiri ibunya dengan lemah.
"Sedang apa kau ?" Seseorang muncul dan menarik kerah sang bocah kemudian 2 orang muncul memegangi kedua singa dengan sigap. Singa betina berontak dan melukai orang yang memeganginya sementara anaknya tak mampu melawan karena pengaruh obat bius.
Bocah itu di seret ke dalam tenda besar di dalamnya terdapat kursi panjang berwarna merah maron, di atasnya duduk pemilik sirkus dengan tubuh besar dan kulit gelap. disampingnya duduk anak kecil meringkuk dengan tubuh memar.
"Apa ini ?" Bentak pemilik sirkus. Suaranya menggelegar bak petir dan membuat orang-orang bermunculan masuk ke dalam tenda.
"Bocah ini membebaskan anak singa yang kita tangkap tadi siang" ucap pria berperawak cina yang menyeret sang bocah.
"Beraninya kau bocah sialan, belajar mencuri dimana kau ?" tatapan nya menusuk, ia memandang sang bocah dengan geram dan diambilnya golok dari belakang bangku dan mengarahkan pada wajah sang bocah.
"Kau adalah orang pengecut yang mencuri anak singa dari induknya" balas bocah itu dengan tatapan menantang.
"Rupanya mulutmu itu perlu diberi pelajaran, bawa dia kesini" pemilik sirkus gusar, sang bocah diseret tepat didepan kakinya yg besar. Kemudian ia menghantamkan tangan besarnya pada mulut sang bocah. Suara tamparan itu terdengar sangat keras, bersamaan dengan itu darah segar mengalir dari mulut dan hidung sang bocah.
Dua orang pria masuk dengan singa-singa yang dibius. mereka melemparkan singa itu ke tanah.
"Tapi aku berterima kasih, kau telah membawakan aku induknya hahahaha" tawanya menggelar dan membuat seisi tenda tersenyum penuh kemenangan.
"Bawa kesini anak singa itu kita tidak lagi memerlukan nya" anak singa yang tidak sadar di cengkram lehernya dan dibawa ke hadapan pemilik sirkus.
Pemilik sirkus mengeluarkan golok dari sarungnya dan dengan satu tebasan menggorok leher anak singa. Darah dari anak singa muncrat dan menciprati sang bocah yang kini sudah tidak dipegangi.
"Hahaha aku akan membunuhmu sekarang juga" ucap bocah itu, kemudian bocah itu bangkit dan merebut golok dari pemilik sirkus, dia melompat dengan tinggi dan satu hantaman golok mendarat di atas kepala pemilik sirkus. Darah segar muncrat ke tenda dan menutupi wajah sang bocah.
kejadian itu terjadi begitu cepat membuat seisi tenda panik dan terdiam beberapa detik, kemudian beberapa dari mereka berlari dan mencoba menangkap sang bocah.
"Tangkap bocah itu" seru salah satu pria yang berdiri di sudut kiri tenda.
Bocah itu berkelit dan lari melalui bagian bawah kursi dan keluar dibelakang tenda, sesaat sebelum itu ia memandang anak yang meringkuk di sudut tenda dengan tatapan kosong. Tatapan anak itu adalah rasa takut dan terkejut yang amat besar hal itu terbukti dengan matanya yang membelalak dan tubuhnya yang bergetar.
Sang bocah berlari mengitari tenda sambil mengecoh beberapa orang yang mengejarnya kemudian ia kembali memasuki pintu depan tenda dan menyambar induk singa yang tidak sadar.
Kemudian mereka berhasil menghilang diantara semak-semak.
Bocah itu kembali ke tempat semula dengan nafasnya yang memburu ia duduk dibawah pohon setelah meletakan induk singa di antara kakinya.
Tanpa diketahui tuan aris berada diatas pohon dengan dua orang rekannya yang memegang senapan angin. Sejak awal ia melihat bocah itu dari kejauhan dan memilih bersembunyi untuk memperhatikan. Salah seorang rekannya bersiap mengarahkan ujung senapan ke arah singa. Tuan Aris mengangkat tangan memberi tanda untuk menunggu.
Selang 1 jam induk singa tersadar dan mulai menggeram untuk mengamuk, sang induk sadar karena mencium darah anaknya yang tersibak dari wajah sang bocah.
Bocah itu memperhatikan tanpa berbuat apa-apa. Ia hanya menatap sang singa dengan datar. Induk singa menyerang dan menerkam tangan sang bocah, bersamaan dengan itu salah seorang rekan tuan aris sudah merasa yakin untuk menembak tetapi lagi-lagi tuan aris memberi tanda untuk menunggu. Tuan Aris sadar bahwa ada yang tidak beres dengan aura bocah tersebut. Aura bocah tersebut membuat singa itu ragu untuk menyerang.
"kau marah ?" ucap bocah itu pelan kemudian ia bangkit berdiri dan seketika induk singa mundur menjauh sambil tetap menggeram. Tuan Aris dan kedua rekannya terkejut dengan tindakan singa tersebut. sang bocah melompat ke arah singa dan berhasil menindihnya, sang singa berontak dan cakarnya melukai kaki sang bocah. Dan dengan satu gerakan bocah tersebut memelintir kepala singa dan singa itu lemas terkulai.
Tuan aris melompat dari pohon diikuti kedua rekannya yang menunjukkan wajah terkejut setengah mati melihat seorang bocah mampu membunuh singa betina.
Bocah tersebut melompat mundur dan tangannya siaga kembali melebar tatapannya tajam mengarah ke tuan aris, dua orang rekannya menodongkan senapan ke arah bocah tersebut.
"Kalian ingin membunuh seorang bocah ?" Tanya Aris dengan nada ringan. Dan dua orang rekannya menurunkan pucuk senapannya.
"Kenapa kau membunuhnya ?" Tuan Aris tersenyum menatap bocah tersebut, tetapi sang bocah tetap tidak menurunkan kewaspadaannya.
"Singa itu marah karena anaknya tewas" balas bocah itu dengan suara pelan nan dingin.
"Bagaimana hal itu terjadi ?"
Tuan Aris mencoba meredam suasana tegang di antara mereka.
"Dibunuh oleh orang-orang sirkus" jawab sang bocah, kewaspadaannya mengendur dan posisi bocah itu kembali rileks.
"Kau dan singa itu menyaksikannya" ucap aris sambil bergumam. bocah itu tidak menjawab dan hanya menatap Tuan aris dengan pandangan aneh, bocah itu merasa penasaran terhadap sosok yang berdiri di hadapannya.
"Lalu bagaimana kau bisa lolos dari orang-orang sirkus?" Tanya Tuan Aris lagi.
"Aku membunuhnya, ketua sirkus itu" jawaban bocah itu membuat tatapan Tuan Aris seketika berubah dingin dan kedua rekannya membelalak dengan tatapan tidak percaya.
"Kenapa kau membunuh singa itu?" Suara tuan aris terdengar sangat pelan.
"Aku berpikir ia lebih baik pergi menyusul anaknya yang telah mati, daripada ia hidup sendiri" jawab bocah itu sambil menatap kedua rekan tuan aris bergantian.
"Lalu apa bedanya kau dengan ketua sirkus itu ?" Pertanyaan Tuan Aris membuat bocah itu terkejut, tiba-tiba kakinya lemas dan ia mundur beberapa langkah.
"Aku tidak salah, aku melakukan hal yang benar" tatapan bocah itu beralih ke tanah.
"Hanya Tuhan yang berhak menentukan siapa yang akan hidup dan siapa yang akan mati" ucap Tuan aris lagi, ia berjalan ke depan bocah itu dan berjongkok di depannya.
"Apa kau merasa dirimu Tuhan ? Kau berhak melakukan itu karena kau lebih kuat. Singa itu berhak untuk hidup" bocah itu menatap Tuan Aris dengan lama kemudian menggeleng lemah.
"Kau menyesal?" Tanya Tuan Aris
"Iya aku menyesal" ucap bocah itu lemah
"Kau ingin ikut denganku ? Aku akan membawamu ke tempat yang lebih nyaman" Tuan Aris bangkit dan bocah itu memandangnya.
"Tapi tuan pemimpin..."seorang rekan tuan aris hendak protes tetapi ia kembali bungkam.
"Apakah boleh?"tanya bocah itu ragu.
"Aku akan menganggapmu sebagai anakku" Tuan aris menjulurkan tangannya ke arah bocah itu sambil tersenyum.
"Baiklah" bocah itu menyambut tangan Tuan Aris dengan yakin. Mereka berjalan keluar dari hutan. sebelum melakukan transportasi cepat Tuan Aris kembali bertanya.
"Siapa namamu ?"
"Namaku Daniel" jawab bocah itu
"Ok Daniel kau harus memanggilku ayah dan aku tidak akan membiarkanmu membunuh semudah itu lagi" ucap Tuan Aris dengan suara tegas.
"Ok ayah" balas bocah itu.