
JULI
"kau gugup ?" tanya anak perempuan itu dengan lembut. ia sudah duduk dan mengguncang-guncang kakinya yang tidak menyentuh lantai.
"kenapa aku harus gugup " jawab 477 sedikit kesal. kemudian anak perempuan itu tertawa lembut.
"kau 477 kan ? aku mendapat tugas untuk menemanimu pada percobaan pertama ini" ucap anak perempuan itu sambil tersenyum. "ngomong-ngomong namaku juli" lanjutya lagi.
"siapa yang menugaskanmu ? tanya 477 dengan sedikit penasaran.
"diriku sendiri" jawab juli dengan mantap.
"hah ?" nada suara 477 mulai terdengar jengkel.
"aku memperhatikanmu saat peristiwa bertarungmu, sepertinya aku tertarik padamu.. hehehe" ucap juli sambil terkekeh. 477 tidak menjawab dan mulai berkonsentrasi karena kereta mulai berjalan. hanya terdapat delapan orang penumpang saat itu dari lima gerbong yang ada.
"bagaimana ? menyenangkan bukan ? ini adalah satu-satunya cara kita berinteraksi dengan para manusia secara langsung " juli turun dari kursi kereta dan meranjak ke arah pintu masuk. angin berhembus menerpa wajahnya yang putih dan membuat rambut panjang coklatnya berkibar.
"kau bisa jatuh " ucap 477 secara spontan.
"kau mengkhawatirkan aku ? hahaha 477 aku tidak akan mati, maksudku didunia kita tidak ada istilah mati" juli tertawa terbahak. 477 kemudian tersadar dan merasa bingung dengan ucapan spontannya. "lalu apa istilahnya ?" tanya 477 untuk melupakan perasaan bingungnya.
"kita biasa menyebutnya menghilang, itu karena kita tidak merasakan kematian seperti para manusia" jelas juli sambil mengubah posisi berdirinya ke arah kereta berjalan.
"hmmmm..."477 hanya bergumam menunjukan tanda mengerti.
"sepertinya kau akan terbiasa jagoan, jadi aku sampai sini saja" juli turun melompat ke peron saat 477 mulai memasuki stasiun sudirman.
"kau akan kembali ke markas ? tanya 477 sebelum juli melakukan transport cepat.
"benar" juli tersenyum lebar dan berbalik meninggalkan peron. dress gadingnya berkibar terhembus angin pagi. kemudian ia berbalik sebentar menatap 477
"477..." panggilnya dengan suara pelan. 477 diam memperhatikan
"waktu itu kau benar-benar keren sekali " ucapan juli membuat 477 sedikit tercenggang, tapi beberapa detik kemudian ia tersenyum tulus.
"semoga kita bertemu lagi" ucap 477 tulus.
"kita pasti bertemu lagi" ucap juli sebelum akhirnya menghilang.
Tak terasa beberapa stasiun sudah terlewati dan 477 sudah memasuki stasiun tanah abang, penumpang mulai membeludak memasuki kereta dan untuk pertama kalinya 477 merasa risih karena banyak sekali tangan yang memegang tubuh besinya. kemudian sebuah KRD memasuki jalur empat tak jauh dari jalur enam tempat 477 berada.
"halo boss pemimpin" dari nada suaranya kereta yang satu ini sangat bersahabat.
"jangan panggil aku begitu" tolak 477 dengan suara dingin
"baiklah 477, kau ingat aku ?" tanyanya dengan nada riang.
"tentu saja, kau yang waktu itu memperingatkan lawan bertarungku 211, tapi aku tak tau namamu" balas 477. nada suaranya melunak.
"kau akan tau sebentar lagi" jawab KRD itu menahan tawa. 477 terdiam dan memikirkan apa maksud perkataannya. sampai kemudian speaker pemberitahuan berbunyi.
"JALUR EMPAT AMAN SILAHKAN BERANGKAT, KA MASINIS 918 DIPERSILAHKAN BERANGKAT" 918 mulai bergerak dan meninggalkan jalur empat perlahan, 477 tertawa pelan sambil menatap 918 dengan seksama.
"jadi bagaimana perasaan sentuhan manusia ?" 918 menahan senyum. 477 menangkap nada meledek pada suaranya dan membalas "rasanya seperti tubuhmu ditempeli bekicot" 477 menghela nafas dan tersenyum kemudian.
"kalau begitu aku punya saran untukmu 477" ucap 918 dengan nada serius. dan ia sudah berada sangat jauh meninggalkan peron.
"apa ?"477 mendengarkan
"anggap saja mereka semua cewe-cewe yang sedang merabamu..wahahaha"
"kuhajar kau 918" teriak 477 dan akhirnya dia ikut tertawa terbahak. dalam pikirannya adalah ia menemukan seseorang yang akhirnya mampu membuatnya sedikit lebih hidup.
"bercanda boss"teriak 918 dan akhirnya menghilang dikejauhan.
percobaan pertama 477 terbilang lancar, hanya sesekali terdapat anggota express yang mencemoohnya karena tidak senang sebagai pemimpin. 477 hanya mengacuhkan mereka dan menikamti perjalanan pertamanya dengan perasaan senang, sebelumnya ia berpikir mengisi kereta adalah hal yang membosankan ternyata ia salah besar, walaupun perasaan sentuhan tidak menyenangkan untuknya tetapi itu membuatnya terasa hidup dan menjadi bagian dari kehidupan manusia. dan ia tidak akan melupakan pengalaman berharganya itu.
hari menjelang malam dan 477 sudah berada dimarkas dan duduk menikmati malam yang mulai dingin. terdengar suara langkah kaki dan ia mulai siaga dan mencari asal suara itu. tak lama kemudian juli muncul dari kegelapan dan terseyum simpul. 477 balas tersenyum dan memperhatikannya dengan seksama sampai juli benar-benar berada didepannya.
"kau pemimpin sekarang, harusnya kau memiliki pengikut bersamamu" ucapnya sambil menatap mata 477
"aku tidak perlu itu'' balas 477 santai.
"kau rindu padaku?" pertanyaan juli membuat 477 menilai bahwa dia sebagai orang yang terbuka dan jujur.
"kenapa kau berpikir begitu ?"jawab 477 dengan bingung.
"entahlah, feeling saja" juli tersenyum lebar.
477 tidak dalam keadaan siaga saat seseorang muncul dibelakangnya dan memukul kepalanya dengan besi panjang kemudian orang itu menghilang. yang ia rasakan adalah darah hangat mengalir dan kepalanya sudah berada ditanah. samar-samar terdengar juli berteriak dan menangis kemudian , semua nampak gelap baginya.
"siapa yang berani melakukan ini ?" david duduk disamping 477 yang sedang tidak sadar. tangannya mengepal dan matanya terasa terbakar. ayahnya duduk disebrang menunduk sambil memegang kepala. tak jauh dari sana 918 berdiri dan hanya melihat keadaan, ekpresinya tidak dapat ditebak. 477 mulai membuka matanya dan melihat wajah adiknya dengan datar, ia kemudian duduk dan menyentuh perban yang terdapat dikepalanya.
"kau tidak lihat wajahnya 477 ?" tanya david sambil memandang kakaknya.
"tidak"balas 477. kemudian pandangan matanya berkeliling mencari sosok juli yang seharusnya ada saat itu. "juli sudah pulang setelah mengobatimu" ucap 918 sambil menghampiri 477
"david.. 918.. tinggalkan kami berdua. ada yang harus aku bicarakan dengan 477" sang pemimpin bangkit sambil mejulurkan tangan ke arah 477, 477 menyambut tangan ayahnya untuk membantunya berdiri.
"baik tuan pemimpin" 918 memberi hormat dan pergi. david tak bersuara dan mengikuti perkataan ayahnya.
"sepertinya keputusanku mengangkatmu sebagai pemimpin salah besar" ucap sang ayah pelan
"aku tidak berpikir begitu"sahut 477
"lihat apa yang terjadi"sang ayah menepuk bahu 477 dan pandangannya beralih ke arah langit
"ini tidak lebih buruk dari serangan singa"ucap 477. sang ayah tertawa getir.
"kita akan cari tahu siapa yang melakukan ini"sang ayah berbalik dan menatap lurus kedepan.
"tidak ayah.. aku yang akan mencari tahu sendiri" jawab 477 dengan nada yakin.
"kau yakin?"sang ayah terdengar ragu.
"aku pemimpinnya sekarang dan ayah harus percaya padaku" ucap 477 sambil menatap tajam ayahnya. sang ayah tersenyum simpul. "beristrirahatlah 477" sang ayah pergi berlalu. kemudian 918 terlihat dan berjalan mendekati 477
"serahkan padaku aku akan membawanya kehadapanmu" ucap 918 dengan nada dingin.
"benar.. aku tak bisa membiarkan orang yang akan membunuhku berkeliaran begitu saja" jawab 477 dengan kesal. ia tidak sadar bahwa nafsu membunuh kembali menyelimuti dirinya.
"kenapa aku harus gugup " jawab 477 sedikit kesal. kemudian anak perempuan itu tertawa lembut.
"kau 477 kan ? aku mendapat tugas untuk menemanimu pada percobaan pertama ini" ucap anak perempuan itu sambil tersenyum. "ngomong-ngomong namaku juli" lanjutya lagi.
"siapa yang menugaskanmu ? tanya 477 dengan sedikit penasaran.
"diriku sendiri" jawab juli dengan mantap.
"hah ?" nada suara 477 mulai terdengar jengkel.
"aku memperhatikanmu saat peristiwa bertarungmu, sepertinya aku tertarik padamu.. hehehe" ucap juli sambil terkekeh. 477 tidak menjawab dan mulai berkonsentrasi karena kereta mulai berjalan. hanya terdapat delapan orang penumpang saat itu dari lima gerbong yang ada.
"bagaimana ? menyenangkan bukan ? ini adalah satu-satunya cara kita berinteraksi dengan para manusia secara langsung " juli turun dari kursi kereta dan meranjak ke arah pintu masuk. angin berhembus menerpa wajahnya yang putih dan membuat rambut panjang coklatnya berkibar.
"kau bisa jatuh " ucap 477 secara spontan.
"kau mengkhawatirkan aku ? hahaha 477 aku tidak akan mati, maksudku didunia kita tidak ada istilah mati" juli tertawa terbahak. 477 kemudian tersadar dan merasa bingung dengan ucapan spontannya. "lalu apa istilahnya ?" tanya 477 untuk melupakan perasaan bingungnya.
"kita biasa menyebutnya menghilang, itu karena kita tidak merasakan kematian seperti para manusia" jelas juli sambil mengubah posisi berdirinya ke arah kereta berjalan.
"hmmmm..."477 hanya bergumam menunjukan tanda mengerti.
"sepertinya kau akan terbiasa jagoan, jadi aku sampai sini saja" juli turun melompat ke peron saat 477 mulai memasuki stasiun sudirman.
"kau akan kembali ke markas ? tanya 477 sebelum juli melakukan transport cepat.
"benar" juli tersenyum lebar dan berbalik meninggalkan peron. dress gadingnya berkibar terhembus angin pagi. kemudian ia berbalik sebentar menatap 477
"477..." panggilnya dengan suara pelan. 477 diam memperhatikan
"waktu itu kau benar-benar keren sekali " ucapan juli membuat 477 sedikit tercenggang, tapi beberapa detik kemudian ia tersenyum tulus.
"semoga kita bertemu lagi" ucap 477 tulus.
"kita pasti bertemu lagi" ucap juli sebelum akhirnya menghilang.
Tak terasa beberapa stasiun sudah terlewati dan 477 sudah memasuki stasiun tanah abang, penumpang mulai membeludak memasuki kereta dan untuk pertama kalinya 477 merasa risih karena banyak sekali tangan yang memegang tubuh besinya. kemudian sebuah KRD memasuki jalur empat tak jauh dari jalur enam tempat 477 berada.
"halo boss pemimpin" dari nada suaranya kereta yang satu ini sangat bersahabat.
"jangan panggil aku begitu" tolak 477 dengan suara dingin
"baiklah 477, kau ingat aku ?" tanyanya dengan nada riang.
"tentu saja, kau yang waktu itu memperingatkan lawan bertarungku 211, tapi aku tak tau namamu" balas 477. nada suaranya melunak.
"kau akan tau sebentar lagi" jawab KRD itu menahan tawa. 477 terdiam dan memikirkan apa maksud perkataannya. sampai kemudian speaker pemberitahuan berbunyi.
"JALUR EMPAT AMAN SILAHKAN BERANGKAT, KA MASINIS 918 DIPERSILAHKAN BERANGKAT" 918 mulai bergerak dan meninggalkan jalur empat perlahan, 477 tertawa pelan sambil menatap 918 dengan seksama.
"jadi bagaimana perasaan sentuhan manusia ?" 918 menahan senyum. 477 menangkap nada meledek pada suaranya dan membalas "rasanya seperti tubuhmu ditempeli bekicot" 477 menghela nafas dan tersenyum kemudian.
"kalau begitu aku punya saran untukmu 477" ucap 918 dengan nada serius. dan ia sudah berada sangat jauh meninggalkan peron.
"apa ?"477 mendengarkan
"anggap saja mereka semua cewe-cewe yang sedang merabamu..wahahaha"
"kuhajar kau 918" teriak 477 dan akhirnya dia ikut tertawa terbahak. dalam pikirannya adalah ia menemukan seseorang yang akhirnya mampu membuatnya sedikit lebih hidup.
"bercanda boss"teriak 918 dan akhirnya menghilang dikejauhan.
percobaan pertama 477 terbilang lancar, hanya sesekali terdapat anggota express yang mencemoohnya karena tidak senang sebagai pemimpin. 477 hanya mengacuhkan mereka dan menikamti perjalanan pertamanya dengan perasaan senang, sebelumnya ia berpikir mengisi kereta adalah hal yang membosankan ternyata ia salah besar, walaupun perasaan sentuhan tidak menyenangkan untuknya tetapi itu membuatnya terasa hidup dan menjadi bagian dari kehidupan manusia. dan ia tidak akan melupakan pengalaman berharganya itu.
hari menjelang malam dan 477 sudah berada dimarkas dan duduk menikmati malam yang mulai dingin. terdengar suara langkah kaki dan ia mulai siaga dan mencari asal suara itu. tak lama kemudian juli muncul dari kegelapan dan terseyum simpul. 477 balas tersenyum dan memperhatikannya dengan seksama sampai juli benar-benar berada didepannya.
"kau pemimpin sekarang, harusnya kau memiliki pengikut bersamamu" ucapnya sambil menatap mata 477
"aku tidak perlu itu'' balas 477 santai.
"kau rindu padaku?" pertanyaan juli membuat 477 menilai bahwa dia sebagai orang yang terbuka dan jujur.
"kenapa kau berpikir begitu ?"jawab 477 dengan bingung.
"entahlah, feeling saja" juli tersenyum lebar.
477 tidak dalam keadaan siaga saat seseorang muncul dibelakangnya dan memukul kepalanya dengan besi panjang kemudian orang itu menghilang. yang ia rasakan adalah darah hangat mengalir dan kepalanya sudah berada ditanah. samar-samar terdengar juli berteriak dan menangis kemudian , semua nampak gelap baginya.
"siapa yang berani melakukan ini ?" david duduk disamping 477 yang sedang tidak sadar. tangannya mengepal dan matanya terasa terbakar. ayahnya duduk disebrang menunduk sambil memegang kepala. tak jauh dari sana 918 berdiri dan hanya melihat keadaan, ekpresinya tidak dapat ditebak. 477 mulai membuka matanya dan melihat wajah adiknya dengan datar, ia kemudian duduk dan menyentuh perban yang terdapat dikepalanya.
"kau tidak lihat wajahnya 477 ?" tanya david sambil memandang kakaknya.
"tidak"balas 477. kemudian pandangan matanya berkeliling mencari sosok juli yang seharusnya ada saat itu. "juli sudah pulang setelah mengobatimu" ucap 918 sambil menghampiri 477
"david.. 918.. tinggalkan kami berdua. ada yang harus aku bicarakan dengan 477" sang pemimpin bangkit sambil mejulurkan tangan ke arah 477, 477 menyambut tangan ayahnya untuk membantunya berdiri.
"baik tuan pemimpin" 918 memberi hormat dan pergi. david tak bersuara dan mengikuti perkataan ayahnya.
"sepertinya keputusanku mengangkatmu sebagai pemimpin salah besar" ucap sang ayah pelan
"aku tidak berpikir begitu"sahut 477
"lihat apa yang terjadi"sang ayah menepuk bahu 477 dan pandangannya beralih ke arah langit
"ini tidak lebih buruk dari serangan singa"ucap 477. sang ayah tertawa getir.
"kita akan cari tahu siapa yang melakukan ini"sang ayah berbalik dan menatap lurus kedepan.
"tidak ayah.. aku yang akan mencari tahu sendiri" jawab 477 dengan nada yakin.
"kau yakin?"sang ayah terdengar ragu.
"aku pemimpinnya sekarang dan ayah harus percaya padaku" ucap 477 sambil menatap tajam ayahnya. sang ayah tersenyum simpul. "beristrirahatlah 477" sang ayah pergi berlalu. kemudian 918 terlihat dan berjalan mendekati 477
"serahkan padaku aku akan membawanya kehadapanmu" ucap 918 dengan nada dingin.
"benar.. aku tak bisa membiarkan orang yang akan membunuhku berkeliaran begitu saja" jawab 477 dengan kesal. ia tidak sadar bahwa nafsu membunuh kembali menyelimuti dirinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar