Masa lalu
Malam itu udara terasa menusuk tulang. Seorang bocah duduk dibawah pohon diantara hutan yang lembab. Matanya tertutup dan kepalanya mendongak ke atas. kantuk mulai menyerang dirinya sampai tiba-tiba kesadaran nya kembali karena merasa ada aura besar disekitarnya. Dia berjongkok tangannya siaga melebar, matanya menelusuri setiap sisi pohon dan semak.
"Graumm" suara auman jelas terdengar, bocah itu sadar apa yang akan ia hadapi, kemudian dari semak muncul singa betina mendekatinya perlahan.
Aura membunuh singa itu tiba-tiba menghilang ketika ia menatap bocah itu kemudian ia merebahkan tubuhnya di depan bocah itu dengan kepala menyentuh tanah.
Bocah itu mengendurkan kewaspadaan nya dan menatap singa itu dengan tatapan kosong. kemudian ia kembali pada posisinya memejamkan mata dengan kepala menengadah ke atas.
Singa betina itu bangkit dan mulai mendekati bocah itu, tapi bocah itu tak bergeming dari posisinya.
Singa itu mulai menjilati tangan nya dan membuat bocah itu kembali membuka matanya.
"Apa yang kau mau ? Aku juga tidak punya makanan. Jangan berharap padaku" ucap bocah itu sambil menarik tangannya.
Singa itu mengapit celana bocah itu dengan giginya sambil menariknya dengan perlahan.
"apa lagi ?" tanya bocah itu jengkel.
Singa itu kembali mengaum dengan pelan sambil tetap menggigit celana sang bocah.
"baiklah aku akan ikut denganmu" seakan mengerti kemauan singa, bocah itu langsung berdiri dan menepak celananya.
Singa itu menunjukan jalan, bocah dan sang singa berjalan menyusuri hutan yang gelap. Selang beberapa waktu, samar-samar terdengar suara musik dan keramaian orang, serta terlihat cahaya dari kejauhan.
Kelompok sirkus terlihat dengan jelas, kandang dengan berbagai macam hewan sirkus berderet di sepanjang jalan. beberapa orang memainkan musik dengan celo dan gendang dan sebagian dari mereka bernyanyi dengan riang.
Sang singa menunjukan jalan memutari keramaian menuntun bocah itu pada sebuah tenda besar dan api unggun di depannya. Terlihat tiga orang pria sedang membakar daging, dan 2 orang tidur dengan posisi duduk. Dibelakang tenda terdapat sebuah kandang yang terpisah,
Di dalamnya terdapat anak singa dengan luka bius. Anak singa itu mengaum lemah ketika mendapati sang ibu datang mengendusnya.
Pandangan sang bocah menyusuri tanah disekitar nya lalu ia berjongkok mengambil batu besar. Kemudian ia menghantamkan batu itu ke gembok pada kandang singa, membutuhkan sampai 3 hantaman dan gembok itu berhasil dirusaknya. anak singa itu keluar dan menghampiri ibunya dengan lemah.
"Sedang apa kau ?" Seseorang muncul dan menarik kerah sang bocah kemudian 2 orang muncul memegangi kedua singa dengan sigap. Singa betina berontak dan melukai orang yang memeganginya sementara anaknya tak mampu melawan karena pengaruh obat bius.
Bocah itu di seret ke dalam tenda besar di dalamnya terdapat kursi panjang berwarna merah maron, di atasnya duduk pemilik sirkus dengan tubuh besar dan kulit gelap. disampingnya duduk anak kecil meringkuk dengan tubuh memar.
"Apa ini ?" Bentak pemilik sirkus. Suaranya menggelegar bak petir dan membuat orang-orang bermunculan masuk ke dalam tenda.
"Bocah ini membebaskan anak singa yang kita tangkap tadi siang" ucap pria berperawak cina yang menyeret sang bocah.
"Beraninya kau bocah sialan, belajar mencuri dimana kau ?" tatapan nya menusuk, ia memandang sang bocah dengan geram dan diambilnya golok dari belakang bangku dan mengarahkan pada wajah sang bocah.
"Kau adalah orang pengecut yang mencuri anak singa dari induknya" balas bocah itu dengan tatapan menantang.
"Rupanya mulutmu itu perlu diberi pelajaran, bawa dia kesini" pemilik sirkus gusar, sang bocah diseret tepat didepan kakinya yg besar. Kemudian ia menghantamkan tangan besarnya pada mulut sang bocah. Suara tamparan itu terdengar sangat keras, bersamaan dengan itu darah segar mengalir dari mulut dan hidung sang bocah.
Dua orang pria masuk dengan singa-singa yang dibius. mereka melemparkan singa itu ke tanah.
"Tapi aku berterima kasih, kau telah membawakan aku induknya hahahaha" tawanya menggelar dan membuat seisi tenda tersenyum penuh kemenangan.
"Bawa kesini anak singa itu kita tidak lagi memerlukan nya" anak singa yang tidak sadar di cengkram lehernya dan dibawa ke hadapan pemilik sirkus.
Pemilik sirkus mengeluarkan golok dari sarungnya dan dengan satu tebasan menggorok leher anak singa. Darah dari anak singa muncrat dan menciprati sang bocah yang kini sudah tidak dipegangi.
"Hahaha aku akan membunuhmu sekarang juga" ucap bocah itu, kemudian bocah itu bangkit dan merebut golok dari pemilik sirkus, dia melompat dengan tinggi dan satu hantaman golok mendarat di atas kepala pemilik sirkus. Darah segar muncrat ke tenda dan menutupi wajah sang bocah.
kejadian itu terjadi begitu cepat membuat seisi tenda panik dan terdiam beberapa detik, kemudian beberapa dari mereka berlari dan mencoba menangkap sang bocah.
"Tangkap bocah itu" seru salah satu pria yang berdiri di sudut kiri tenda.
Bocah itu berkelit dan lari melalui bagian bawah kursi dan keluar dibelakang tenda, sesaat sebelum itu ia memandang anak yang meringkuk di sudut tenda dengan tatapan kosong. Tatapan anak itu adalah rasa takut dan terkejut yang amat besar hal itu terbukti dengan matanya yang membelalak dan tubuhnya yang bergetar.
Sang bocah berlari mengitari tenda sambil mengecoh beberapa orang yang mengejarnya kemudian ia kembali memasuki pintu depan tenda dan menyambar induk singa yang tidak sadar.
Kemudian mereka berhasil menghilang diantara semak-semak.
Bocah itu kembali ke tempat semula dengan nafasnya yang memburu ia duduk dibawah pohon setelah meletakan induk singa di antara kakinya.
Tanpa diketahui tuan aris berada diatas pohon dengan dua orang rekannya yang memegang senapan angin. Sejak awal ia melihat bocah itu dari kejauhan dan memilih bersembunyi untuk memperhatikan. Salah seorang rekannya bersiap mengarahkan ujung senapan ke arah singa. Tuan Aris mengangkat tangan memberi tanda untuk menunggu.
Selang 1 jam induk singa tersadar dan mulai menggeram untuk mengamuk, sang induk sadar karena mencium darah anaknya yang tersibak dari wajah sang bocah.
Bocah itu memperhatikan tanpa berbuat apa-apa. Ia hanya menatap sang singa dengan datar. Induk singa menyerang dan menerkam tangan sang bocah, bersamaan dengan itu salah seorang rekan tuan aris sudah merasa yakin untuk menembak tetapi lagi-lagi tuan aris memberi tanda untuk menunggu. Tuan Aris sadar bahwa ada yang tidak beres dengan aura bocah tersebut. Aura bocah tersebut membuat singa itu ragu untuk menyerang.
"kau marah ?" ucap bocah itu pelan kemudian ia bangkit berdiri dan seketika induk singa mundur menjauh sambil tetap menggeram. Tuan Aris dan kedua rekannya terkejut dengan tindakan singa tersebut. sang bocah melompat ke arah singa dan berhasil menindihnya, sang singa berontak dan cakarnya melukai kaki sang bocah. Dan dengan satu gerakan bocah tersebut memelintir kepala singa dan singa itu lemas terkulai.
Tuan aris melompat dari pohon diikuti kedua rekannya yang menunjukkan wajah terkejut setengah mati melihat seorang bocah mampu membunuh singa betina.
Bocah tersebut melompat mundur dan tangannya siaga kembali melebar tatapannya tajam mengarah ke tuan aris, dua orang rekannya menodongkan senapan ke arah bocah tersebut.
"Kalian ingin membunuh seorang bocah ?" Tanya Aris dengan nada ringan. Dan dua orang rekannya menurunkan pucuk senapannya.
"Kenapa kau membunuhnya ?" Tuan Aris tersenyum menatap bocah tersebut, tetapi sang bocah tetap tidak menurunkan kewaspadaannya.
"Singa itu marah karena anaknya tewas" balas bocah itu dengan suara pelan nan dingin.
"Bagaimana hal itu terjadi ?"
Tuan Aris mencoba meredam suasana tegang di antara mereka.
"Dibunuh oleh orang-orang sirkus" jawab sang bocah, kewaspadaannya mengendur dan posisi bocah itu kembali rileks.
"Kau dan singa itu menyaksikannya" ucap aris sambil bergumam. bocah itu tidak menjawab dan hanya menatap Tuan aris dengan pandangan aneh, bocah itu merasa penasaran terhadap sosok yang berdiri di hadapannya.
"Lalu bagaimana kau bisa lolos dari orang-orang sirkus?" Tanya Tuan Aris lagi.
"Aku membunuhnya, ketua sirkus itu" jawaban bocah itu membuat tatapan Tuan Aris seketika berubah dingin dan kedua rekannya membelalak dengan tatapan tidak percaya.
"Kenapa kau membunuh singa itu?" Suara tuan aris terdengar sangat pelan.
"Aku berpikir ia lebih baik pergi menyusul anaknya yang telah mati, daripada ia hidup sendiri" jawab bocah itu sambil menatap kedua rekan tuan aris bergantian.
"Lalu apa bedanya kau dengan ketua sirkus itu ?" Pertanyaan Tuan Aris membuat bocah itu terkejut, tiba-tiba kakinya lemas dan ia mundur beberapa langkah.
"Aku tidak salah, aku melakukan hal yang benar" tatapan bocah itu beralih ke tanah.
"Hanya Tuhan yang berhak menentukan siapa yang akan hidup dan siapa yang akan mati" ucap Tuan aris lagi, ia berjalan ke depan bocah itu dan berjongkok di depannya.
"Apa kau merasa dirimu Tuhan ? Kau berhak melakukan itu karena kau lebih kuat. Singa itu berhak untuk hidup" bocah itu menatap Tuan Aris dengan lama kemudian menggeleng lemah.
"Kau menyesal?" Tanya Tuan Aris
"Iya aku menyesal" ucap bocah itu lemah
"Kau ingin ikut denganku ? Aku akan membawamu ke tempat yang lebih nyaman" Tuan Aris bangkit dan bocah itu memandangnya.
"Tapi tuan pemimpin..."seorang rekan tuan aris hendak protes tetapi ia kembali bungkam.
"Apakah boleh?"tanya bocah itu ragu.
"Aku akan menganggapmu sebagai anakku" Tuan aris menjulurkan tangannya ke arah bocah itu sambil tersenyum.
"Baiklah" bocah itu menyambut tangan Tuan Aris dengan yakin. Mereka berjalan keluar dari hutan. sebelum melakukan transportasi cepat Tuan Aris kembali bertanya.
"Siapa namamu ?"
"Namaku Daniel" jawab bocah itu
"Ok Daniel kau harus memanggilku ayah dan aku tidak akan membiarkanmu membunuh semudah itu lagi" ucap Tuan Aris dengan suara tegas.
"Ok ayah" balas bocah itu.