hingga tersisa perjalanan terakhir dari stasiun serpong untuk tujuan tanah abang ia masih saja merasa bosan karena terlalu sepi. pada stasiun sudimara penumpang yang naik agak lumayan banyak dan saat itu hari sudah gelap menunjukan pukul 20.00 malam. terdapat seorang anak perempuan yang masih mengenakan pakaian sekolahnya, 486 berpikir kenapa anak itu belum berganti baju selarut ini dan ia mendapati percakapan bahwa orangtua dari anak tersebut baru saja kembali dari stasiun sudimara atau yang biasa disebut jombang untuk melihat rumah yang akan dibelinya.
" 17 agustus tahun 45 itulah hari kemerdekaan kita.." 486 termenung dan bertanya-tanya kenapa anak perempuan itu bernyanyi dalam hati, mungkin saja tidak ingin mengganggu percakapan orang tuanya.
anak itu bernyanyi sambil mengguncangkan-guncangkan kakinya yang bahkan tidak sampai lantai
" kenapa kamu gak ikut nyanyi ?"
" heh?" 486 terkesiap anak itu berbicara dengan siapa pikirnya
" aku ngomong sama kamu, kenapa kamu gak ikut aku nyanyi ? masih agustus loh sekarang " ucap anak perempuan tersebut sambil kembali menyanyikan lagu kebangsaan. 486 terkejut dan memberanikan diri bertanya
" kamu bicara sama aku ?" tanyanya walaupun ragu anak perempuan itu akan menjawab
" iyaa aku bicara sama kamu " jawab anak perempuan itu sambil tersenyum
" nama aku salma, kamu ? sebentar lagi aku pindah rumah di sudimara" lanjut anak itu
" aku 486 kamu bisa dengar nama aku disebut disemua stasiun, oh itu bagus kamu bisa naik kereta setiap hari" jawab 486 dengan perasaan senang. karena ia ingat nama salma yang pernah diucapkan oleh 477 dan ia mengetahui siapa anak perempuan itu.
" ok aku turun disini, sampai ketemu lagi 486" ucap salma sambil menoleh sebelum benar-benar meninggalkan stasiuan
" sampai jumpa lagi salma " jawab 486 dengan suara lantang.
" jalur dua KA Masinis 486 dipersilahkan berangkat " suara pemberitahuan berbunyi nyaring sebagai tanda mempersilahkan 486 segera berangkat.
486 tidak sabar sampai di markas ia ingin segera memberitahukan 477 siapa yang baru saja dijumpainya. dalam hati ia penasaran bagaimana ekspresi 477 ketika ia memberitahukan hal tersebut.
Matahari sudah naik pagi hari ini, banyak orang berkumpul dimarkas untuk sekedar mengobrol ataupun bercanda. 477 berkeliling melihat-lihat kelompok orang-orang yang berkumpul dalam hatinya ia membenarkan perkataan ayahnya yang mengatakan bahwa kelompok ini bercerai-berai semuanya hanya berkumpul menurut kelompok kereta masing-masing. tapi ia juga tidak yakin bisa menyanggupi permintaan ayahnya untuk menyatukan kelompok kereta itu. selesai berkeliling ia menjauhi markas dan pergi ke kelompok anak perempuan dalam hatinya terbesit adakah anak perempuan disini yang sifat dan kelakuannya mirip seperti salma.
tiba-tiba saja waktu terasa berjalan lambat dari arah depan terlihat juli berjalan ke arah 477, matanya mencari kemana arah mata 477 tetapi 477 mengalihkan pandangannya ke kanan dan tubuh mereka hampir saling bersentuhan dan juli pun berlalu dengan wajah muram. didepan 477 melihat sosok gadis yang sepertinya ia kenali, gadis itu sedang berjongkok dan didepannya terdapat gerombolan gadis lain yang sedang tertawa cekikikan.
" ada apa ini ?" tanya 477 menegur gerombolan anak gadis tersebut yang tiba-tiba diam membeku. 477 menatap gadis yang sedang berjongkok mata gadis itu sembab dan nafasnya sesegukan menahan tangis.
" kau kenapa lagi ?" tanya 477
" aku sudah minta maaf kepada mereka tetapi mereka tidak membiarkan aku bergabung dan malah menghinaku " jawab gadis itu dengan suara gemetar
" pemimpin.. gadis sombong itu pantas diperlakukan begitu" salah seorang gadis dari gerombolan maju kedepan
" oh kau yang waktu itu, kenapa kau berpikir seperti itu ?" tanya 477
" eh.. itu.. karena dia sangat sombong.. iya kan teman-teman ?" jawab gadis itu disambut sorakan setuju dari gerombolan dibelakangnya
" jika aku yang bersikap sombong apa kalian akan memperlakukanku begitu ?" tanya 477 menusuk
" ti...tidak pemimpin.. itu tidak berlaku pada anda " jawab gadis itu terbata-bata
" kenapa itu tidak berlaku padaku ? karena jabatanku ? karena aku pemimpin ? karena gadis itu bukan siapa-siapa dan sendirian ?" pertanyaan bertubi-tubi yang di lontarkan 477 membuat mereka terdiam, termasuk gadis yang sedang menangis itu. dalam hatinya ada perasaan senang karena ada yang membelanya.
" dengar.." 477 terdiam sesaat sambil memandangi gerombolan gadis tersebut
" cara berpikir kalian persis seperti para manusia.. dan kalian jenis manusia yang serakah dan gila kelas sosial.. jika kalian berpikir begitu maka mulai hari ini gadis ini resmi menjadi adik angkatku.. sampaikan pada semua orang-orang dan teman-teman kalian jangan pernah menyentuh gadis ini atau kalian memang berniat cari masalah denganku" jelas 477 panjang lebar
gerombolan gadis itu membungkuk dan memohon diri untuk pergi tanpa berkata apapun beberapa dari mereka menoleh kebelakang memperhatikan 477 yang kini menatap gadis yang sedang berjongkok.
" mau sampai kapan kau begitu ?" tanyanya dan gadis itu langsung berdiri canggung menatap 477 dengan perasaan bingung dan malu
" terimakasih telah membelaku pemimpin " ucap gadis itu pelan
" hey... siapa namamu ? aku lupa namamu " tanya 477
" lia pemimpin.. " jawab gadis itu lagi
"lia mulai sekarang aku kakakmu jadi panggil aku kakak.. ok" 477 menyentuh kepala lia dengan tulus dan gadis itu tersenyum dengan perasaan senang.
Langit mulai meredup 477 kembali ke markas dengan perasaan yang agak ringan, dalam hatinya ia merasa bangga bisa menolong seseorang. nampak dipintu masuk markas terlihat seseorang berdiri bersedekap sambil bersandar pada sisi tembok sebelah kanan pintu masuk. ketika jarak diantara mereka mulai pendek, 477 sadar bahwa itu adalah salah satu anggota ekspress yang lumayan berpengaruh dalam kelompoknya, 477 tetap melanjutkan langkah dan berusaha tak menggubris kehadirannya.
"hey anak pungut" ucapan orang tersebut membuat 477 seketika menghentikan langkahnya sesaat setelah melewati pintu masuk.
"apa kau bilang barusan?" tanyanya mempertegas hal yang sudah jelas ia dengar, ia mencoba meredam emosi dan mengepalkan tangan rapat rapat.
"gue bilang anak pungut, lo itu anak pungut yang dikasianin sama aris dan diangkat jadi pemimpin, padahal lo gak punya skill apapun"
477 berbalik seketika berlari mencengkram leher orang tersebut hingga orang tersebut kaget dan mendorongnya.
"dasar brengsek" ucapnya sambil terengah-engah setelah cengkraman 477 berhasil ia lepaskan.
"asal lo tau gw gak berharap sedikitpun jadi pemimpin apalagi harus mimpin orang kayak lo" 477 tidak sadar bahwa emosi membuat kata elo dan gue keluar dari mulutnya begitu alami.
"gue juga gak sudi dipimpin bocah baru gede, cuihh"
perkelahian yang tak terelakkanpun terjadi, baku hantam hingga membuat nafas keduanya tersengal-sengal.
"gw juga denger lo sering ke tempat manusia, lo berharap jadi salah satu dari mereka yaa.. hahaha gak waras lo"
mendengar ucapan tersebut membuat 477 gelap mata, darahnya mendidih dan ia lupa pada janji yang telah ia buat pada aris.
matanya dipenuhi kebencian mendengar orang didepannya menghina hobby nya yang pergi ke dunia manusia. tubuhnya tak terkontrol bergerak sebagaimana insting bertahan hidup nya dulu dihutan, ia secara membabi buta memukul dan menghantam kepala lawannya ketanah, bahkan saat lawannya mulai teriak dan meminta ia untuk berhenti.
telinga nya bak tertutup rapat, matanya telah buta dan tanpa sadar lawannya tak lagi berkutik.
orang beramai ramai keluar dari markas menyaksikan pemimpin baru mereka berlumuran darah duduk bersandar di samping mayat yang tak lagi bernyawa. mereka ramai berbisik-bisik mengomentari apa yang ada dihadapan mereka. sebagian merasa takut dan gemetar dan sebagian lagi merasa takjub.
Kedatangan aris membuat semuanya tiba tiba hening, aris berjalan dan kini berdiri tepat didepan 477 yang sedang duduk dengan tatapan kosong.
tak berselang terdengar suara teriakan
" ya tuhan jimiii... jimiku" orang itu adalah ketua ekspress yang bernama edi, dia histeris melihat adiknya tak lagi bernafas.
"anak anda melakukan ini, anda akan diam saja tuan aris" ucap edi dengan nada menusuk
"kau tau kematian didunia kita adalah hal yang biasa, bahkan mayat adikmu sebentar lagi akan lenyap dengan sendirinya, Walaupun aku tak membenarkan apa yang dilakukan 477, jangan berlebihan dan jalani saja tugasmu"
"saya tidak terima adik saya mati, walaupun kita bukan manusia, apakah semudah itu kematian bagi anda tuan aris ?"
"benar semudah itu bagi dunia kita edi, pergi dan urusi saja kelompokmu, aku akan urus anakku sendiri dan jangan campuri" jawaban aris tak lagi berani dibantah oleh edi dia menyuruh
beberapa anggota ekspress lainnya untuk mengangkat mayat jimi ke markas ekspress.
pandangan tak lepas dari 477 yang masih saja duduk tak bergerak sampai ia pergi meninggalkan lokasi kejadian.
"yang lain bubar" ucap aris dengan nada tegas
kerumunan yang menonton pun bergegas pergi sambil sesekali mencuri pandang ke arah 477.
"Aku khilaf ayah, maafkan aku" ucap 477 pelan, ia bahkan tak berani mendongak ke atas menatap ayahnya
"berdiri... berdiri sekarang juga"
477 sadar betul apa yang akan ia hadapi, dengan tangan dan kaki bergetar ia mencoba bangkit dari duduknya dan bediri berhadapan dengan ayahnya.
pukulan keras didaratkan pada perutnya dan membuat ia jatuh tersungkur kebawah, darah kental keluar dari mulutnya.
"berdiri" ucap aris lagi. 477 kembali berdiri dengan susah payah sambil memegangi perutnya, rasa sakit tak tertahankan terlihat jelas pada wajahnya. aris mendorong 477 hingga tersudut ke tembok pembatas markas, jari telunjuknya mendarat didada 477
"sekali lagi kulihat atau kudengar kau membunuh, akan kupatahkan tangan dan kakimu... ingat daniel kau berada di wilayah ku dan aku adalah ayahmu sekali lagi kau mengacau akan kupastikan kau takkan keluar hidup hidup dari sini.. bahkan jangan anggap aku ayahmu lagi"
ucapan aris yang begitu menohok seketika 477 bergetar menahan gejolak rasa sedih sekaligus takut secara bersamaan.
aris pergi begitu saja meninggalkan 477 sendirian, tak lama kemudian datang david berlari lari
"ya tuhan 477 apa yang terjadi ? kudengar kau membunuh orang" david begitu mengkhawatirkan keadaan kakaknya, dia tak bisa menggubris semua luka yang ia lihat pada tubuh kakaknya
selang berapa lama 918 datang menyusul membopong 477 bersama David melewati pintu masuk markas.
sebagian yang berada didepan markas menatap mereka bertiga yang berusaha pergi kekamar asrama. sesampainya didepan kamar 477 meminta mereka melepaskannya ia merasa bisa masuk sendiri ke kamar. David dan 918 pun tetap ikut masuk ke kamar 477 tanpa bicara apapun.
kamar 477 hanya terdapat kasur dan lemari dengan jendela menghadap sisi kanan pembatas markas.
ia langsung duduk dikasur dan diikuti dengan david dan 918
"sekarang apa, pergilah aku ingin sendiri" ucap 477 lemah
"aku akan ambilkan obat untukmu boss, kau harus cepat pulih" ucap 918 seraya bangkit dan bergegas pergi keluar kamar
David hanya menatap kakaknya dengan tatapan penuh arti, sebenernya banyak pertanyaan yang ia akan ajukan soal kenapa kakaknya berkelahi sampai membunuh orang. dia tak pernah membayangkan hal itu dilakukan oleh kakaknya.
tapi dia akan simpan semua pertanyaan itu karena ada hal lebih penting yang ingin ia sampaikan pada kakaknya
"477... aku tau kau mungkin sedang tak ingin diganggu tapi aku ingin memberitahu sesuatu yang akan membuatmu menjerit saat ini juga"
ucapan david membuat 477 langsung menatapnya tajam dan penuh tanda tanya
"lanjutkan 486" ucap 477 masih terdengar lemah
"hari ini aku bertugas dari serpong ke tanah abang, dan aku bertemu seorang anak kecil manusia memakai pakaian SD yang ternyata bisa berbicara denganku" david sengaja menekankan kata manusia dengan maksud memberikan petunjuk pada 477
"kau tidak sedang bercanda kan?" tanya 477 dengan lebih bersemangat dari sebelumnya ia sedikit terkejut mendengar itu
"kau tau tidak siapa nama anak itu ?...
ucap david tanpa menunggu jawaban dari 477
ia langsung menyambar
"namanya salma iskandar" seketika 477 terbelalak jantung nya berpacu dengan cepat, dia bahkan tak sempat berpikir, tiba tiba kepalanya terasa ringan dan penglihatannya pun menjadi gelap dan ia jatuh pingsan.