Minggu, 01 Januari 2017

Kebosanan yang membahagiakan

Malam ini tidak seperti biasanya walaupun waktu sudah memasuki tengah malam, markas terlihat ramai dengan kerumunan penonton yang sedang menyaksikan pertarungan menarik. Yang menarik untuk mereka bukan tentang bagaimana pertarungan itu berjalan tetapi untuk melihat pemimpin baru mereka mengalami kekalahan dalam pertarungan tersebut. walaupun mereka tak menunjukan ekpresi mereka tetapi dalam hati mereka terbesit perasaan senang melihat pemimpin baru mereka yang terkenal akan kesombongannya itu mengalami kekalahan telak.
477 duduk bersandar dengan nafas terengah-engah, ia memperhatikan andre yang menjadi lawan bertarungnya dengan seksama. ia heran sekaligus kagum bagaimana andre bisa memiliki kecepatan dua kali dari dirinya. dulu ia berpikir bahwa ia yang tercepat bahkan lebih cepat dari pergerakan singa singa yang pernah di lawannya tetapi ia salah karena ia menemukan lawan yang bahkan tak bisa ia sentuh dengan ujung jarinya.
" cukup sampai sini latihannya " ucap andre seraya menjulurkan tangan untuk membantu 477 berdiri
" ka andre itu tadi bukan latihan, itu hanya pertarungan yang tak seimbang dan itu bahkan tidak bisa disebut pertarungan" ucap 477 menyambut tangan andre.
" aku ingin kau terbiasa dulu dengan kecepatanku setelah perlahan-perlahan kau mampu menyamai kecepatanku baru kita akan memasuki latihan yang sebenarnya" ucap andre, senyum simpul terlihat diwajahnya kemudian ia menepak bahu 477 dan meninggalkan arena latihan.
" bagaimana ?" juli tersenyum dan memberikan handuk kepada 477, seketika kerumunan perlahan-lahan membubarkan diri.
"apanya yang bagaimana ?" 477 tersenyum menatap juli seraya membersihkan wajahnya dengan handuk.
" sepertinya masih jauh dari harapan hahaha " 918 menyela pembicaraan mereka sambil menyodorkan air putih kepada 477
" hahaha iya aku harus latihan beberapa tahun lagi mungkin" jawab 477 menyambut air pemberiannya
" 918 aku sedang berbicara dengan bossmu bisa beri kami waktu" ucap juli dengan nada memohon
" OH hahaha baiklah untuk kalian yang sedang di mabuk cinta aku persilahkan" jawaban 918 membuat wajah juli merona tetapi ia tak  berkata apa-apa.
" benarkah ?" tanya 477 menatap juli dengan raut penasaran
" Apa ?" tanya juli sambil membuang muka
" Aku tidak merasa sedang mabuk, tapi memang cinta" ucapan 477 membuat juli kembali menatap wajahnya, ekpresinya tidak dapat ditebak.
" ada apa ?" tanya 477 tatapan wajahnya berubah menjadi serius.
" ini terakhir kalinya aku bisa bertemu denganmu 477" ucapnya perlahan sambil menunggu reaksi 477 yang tetap diam tak bergeming
" mereka tidak suka denganmu 477, kau pasti tau aku adalah bagian dari Ekpress, mereka melarangku berhubungan denganmu lagi" lanjut juli lagi sambil menggenggam tangan 477
" tapi aku juga mencintaimu bisakah kau tunggu aku ? aku akan menjelaskan pada mereka situasi di antara kita" nada juli memohon dengan tulus.
" kenapa kau tidak pindah kelompok ke tempatku ?" tanya 477 mendesak
" tidak bisa, mereka berarti untukku 477 " ucap juli lagi
" aku tidak seberarti mereka untukmu ?" 477 menarik tangannya dari genggaman juli, nada suaranya berubah dingin.
" bukan itu maksudku 477, mereka sudah menjadi bagian dari hidupku cukup lama, aku tidak bisa kehilangan mereka. mengertilah" juli terdengar seperti ingin menangis tetapi hal itu tidak mempengaruhi 477
" aku tidak harus menunggumu dan aku tidak mau melakukan itu, jika itu keputusanmu maka memang tidak seharusnya kita bersama" ucap 477 lagi dengan nada sedikit ketus, sangat jelas terlihat bahwa ia emosi tetapi ia berusaha menahannya.
" kau begitu egois 477, kau jahat" ucap juli sambil mulai menangis.
" aku memang egois , begitulah diriku. jangan bilang kau lupa apa yang mereka telah lakukan pada adikku ? " jawaban 477 begitu dingin, juli tidak berkata apa-apa lagi dan ia pergi sambil menangis. percakapan dengan juli membuat 477 merasa sesak ia keluar meninggalkan markas dan berjalan menyusuri jalan setapak di sepanjang rel kereta api.
Jalanan setapak nampak sepi hanya sebagian orang berlalu lalang itupun minim percakapan. 477 memperlambat langkah kakinya ia merasa mendengar suara anak perempuan yang cukup ramai, kemudian ia menghentikan langkahnya ketika melihat dua orang anak perempuan berkelahi berusaha meraih rambut lawannya masing-masing, sedangkan tiga orang yang lain hanya menjadi penonton dan menyemangati salah satu dari mereka. kemudian 477 bergegas menghampiri mereka dan melerai mereka. dua orang perempuan itu menatap 477 dengan tatapan heran tetapi salah seorang dari mereka mengenali 477
" pemimpin" ia membungkuk sedikit sambil merapikan rambutnya yang berantakan.
" kenapa kalian berkelahi ? apa kalian berusaha merontokkan rambut kalian masing-masing ?" tanya 477
" dia..." tunjuk anak perempuan yang sedari tadi membungkuk. tatapan 477 beralih kepada anak perempuan yang sedang bersedekap membuang muka.
" hey nona kenapa kau berkelahi ?" tanya 477 dengan nada bersahabat
" mereka mulai duluan melempariku dengan tanah" jawab anak perempuan itu tanpa menatap 477
477 kembali mengalihkan tatapannya ke anak perempuan yang pertama tanpa berkata apa-apa seakan menunggu penjelasan
" kami berusaha baik-baik mengajaknya bergabung dalam kelompok kami tapi ia bilang aku tidak mau bergaul dengan gadis jelek, maka dari itu kami marah dan melemparinya tanah" penjelasan anak perempuan itu membuat 477 sedikit geli menahan tawa tetapi ia mengalihkan tatapannya ke anak perempuan kedua itu.
" kau merasa cantik nona ?" tanya 477 dengan nada serius
" tentu saja, bergaul dengan mereka akan merendahkan harga diriku" anak perempuan itu menatap 477 dengan tajam
" kalian dengar apa kata dia kan ?" tanya 477 kepada empat anak perempuan lainnya tanpa mengalihkan pandangannya dari anak perempuan sombong tersebut.
" pergilah, aku akan mengurus gadis ini" lanjut 477, empat perempuan tersebut pergi dan memohon diri tanpa berkata apa-apa lagi.
" jadi... kau mau mengajariku cara mengukur tinggi rendahnya harga diri ?" tanya 477 sambil menatap anak perempuan sombong tersebut. anak perempuan itu diam dan tatapannya beralih ke tanah.
" kau boleh berpendapat seperti itu nona, itu hakmu dan aku tidak akan ikut campur pada keputusanmu itu. dan jika kau tidak ingin mengajariku caranya maka simpan itu untuk dirimu baik-baik " 477 bermaksud mengakhiri pembicaraannya dan ia berbalik berjalan meninggalakan anak perempuan itu
" maaf siapa namamu nona ?" tanya 477 kembali berbalik menatap anak perempuan itu dari kejauhan
" Lia " jawab anak perempuan itu dingin
" Lia jika aku boleh memberikanmu pendapat, harga dirimu dan caramu itu akan membuatmu tak mempunyai teman sampai kapanpun" ucapan 477 membuat lia terkejut dan shock sontak ia menangis pelan sambil sesegukkan, 477 meninggalkannya sendirian dan kembali ke markas.

Pagi itu 477 sedang bebas tugas ia merasa bosan dan memikirkan cara untuk menghilangkan kebosanannya tersebut
" kudengar kau putus dengan juli " david mengusik lamunannya
" kapan aku bilang dia pacarku ?" jawab 477 dingin
" 477 aku mulai bertugas hari ini mulai sekarang panggil aku 486 " ucap david kemudian
" selamat kalau begitu, bagaimana kau suka kereta barumu ?" tanya 477 sambil tersenyum tulus
" persis seperti milikmu hanya saja milikku berwarna oranye " jawab david
" Oh aku tau yang itu, pilihan yang bagus" david kemudian terdiam sesaat
" kau tidak marah padaku ?" tanyanya kemudian
" marah untuk apa ?"
" aku membuat masalah dengan ekpress, kau belum mengajakku bicara semenjak kejadian itu" jawab david pelan terdengar nada penyesalan didalamnya
" Tidak, aku malah tau satu hal karena hal itu" ucap 477, terselip nada meledek pada ucapannya
david hanya menaikkan alis sebagai tanda bertanya
" itu berarti kau perduli padaku " jawabnya sambil tertawa terkekeh, david ikut tertawa pelan
" aku bersikap seperti anak kecil, aku benar-benar menyesal" ucap david lagi
" memangnya kau sudah dewasa ? kau masih 10 tahun 486, kau masih kecil " 477 tertawa lagi sambil menepuk bahu david. david menunjukkan ekpresi sedikit kesal tetapi akhirnya ia iku tertawa bersama 477
" aku bosan sekali disini " ucapan 477 memecah tawa diantara mereka berdua
" apa yang ingin kau lakukan ? " tanya david mulai serius
" Entahlah, aku ingin menjadi manusia" jawab 477 asal
" kenapa tak pergi ke sekolah manusia, toh mereka tak dapat melihatmu" ucapan david membuat 477 sedikit bersemangat tetapi kemudian ia teringat perkataan ayahnya
" ayah bilang manusia berbahaya, menurutmu apa yang membuat mereka berbahaya bagi kita yang bahkan tak terlihat ?" tanya 477 pada david seakan mengajak berdiskusi
" hmmm... menurutku mungkin ayah takut kita iri kepada manusia atau meniru sifat buruk mereka " jawab david sambil sedikit bergumam
" cukup masuk akal, itu berarti aku boleh pergi ke sekolah menurutmu ?" tanya 477 sedikit ragu
" kenapa tidak ? kau pemimpin sekarang kau bisa lakukan apapun " david menyikut 477 pelan
" jangan katakan pada siapapun, ini rahasia kita berdua, Ok " ucap 477 pelan seperti berbisik
" Entahlah aku tidak berjanji " jawab david sambil tertawa dan meninggalkan 477 sendirian.
Hari mulai terik dan matahari mulai naik, 477 bersiap mencari sekolah terdekat dari stasiun, sekolah pertama yang ia masuki adalah SDN 01 kampung bali jakarta pusat Tanah abang, Entah kenapa ia tertarik mencari sekolah dasar daerah jakarta, ia masuk kelas dan mengikuti pelajaran tanpa diketahui para manusia, saat itu ia masuk kelas 3 dan mengikuti pelajaran dengan seksama. terkadang ia juga memperhatikan anak-anak laki seusianya bermain bola selama pelajaran olaharaga atau istirahat berlangsung.
setahun berlalu ia mengikuti anak-anak kelas 3 naik ke kelas 4 tetapi ia menginginkan suasana baru dan mencoba mencari sekolah lain untuk memperbanyak pengalamannya. sekolah yang ia kunjungi kedua adalah SDN Palmerah 04 Petang yang berada tidak jauh dari stasiun palmerah. ia masuk kelas 4 saat itu dan kembali mengikuti pelajaran dikelas tersebut.
saat istirahat berlangsung ia melihat seorang anak perempuan yang menarik perhatiannya bukan karena anak itu cantik tetapi karena tingkah laku dan kepribadian anak tersebut. anak tersebut memiliki sifat yang unik dia egois, keras kepala dan sensitif tetapi ia mampu menutupi sifat tersebut layaknya seorang artis professional yang sedang berakting. hal itu tidak dapat 477 pahami bagaimana seseorang yang egois dan keras kepala seperti dirinya bisa bersikap perhatian terhadap temannya dan bahkan mendapatkan teman serta menjadi dominan dalam kelompoknya tersebut. semakin 477 memperhatikannya ia semakin tertarik pada anak tersebut bahkan sampai mengikutinya pulang ke rumah. dirumah anak perempuan tersebut nampak berbeda 180 derajat dari disekolah, ia begitu tomboy, jail dan cukup suka mencari masalah dengan tetangganya. 477 terkadang hanya bisa tertawa melihat tingkahnya yang begitu menyebalkan bila di lihat orang lain tetapi menghibur dirinya.

" gw males ikut pramuka" ucap salah seorang teman anak perempuan itu yang bernama santy
" iya males banget lagi sepi" sambung anak perempuan itu menyetujui
" kita kabur aja yuk sal" ajak santy kepada anak perempuan tersebut
" salma elu kan ketua regu" potong salah satu temannya yang bernama ika
" iya juga sih" jawab anak perempuan tersebut yang ternyata bernama panjang salma iskandar
" gpp ko, lagi gak ada kakak pramuka ini" bujuk santy lagi
" ayuk deh berapa orang jadinya ?" tanya salma kepada teman-temannya
" gw ikut" jawab ika dan astrid yang kebetulan arah rumahnya satu arah
" ya udah pada ambil tas yaa, ntar pas sampe gerbang langsung pada lari" ajak santy kepada yang lainnya. yang lainnya menyetujui dan mereka semua berangkat berlima. ketika mereka sampai gerbang salah seorang anak guru yang juga teman sekelasnya bernama fahmi melihat dan mengejar mereka bersama dengan beberapa anak dari kelas tiga. salma dan teman-temannya berlari sekuat tenaga hampir satu kilometer melewati rumah ika dan astrid, sayangnya ika dan astrid tertangkap fahmi dan terpaksa kembali ke sekolah. salma yang mengikuti jalur lari santy dan farida lolos dan akhirnya mereka bertiga berpencar dan pulang ke rumah masing-masing.

"ko udah pulang yah ?" tanya sang ayah ketika salma memasuki pintu rumah
"iyaa gak pramuka pak, jadi pulang cepet" jawabnya berbohong, saat itu jantungnya berdebar bercampur aduk antara perasaan takut ketahuan dan takut akan hukuman besok disekolah. dalam hati ia bertanya-tanya apakah hanya dirinya yang tidak tertangkap atau ada lagi temannya yang lolos.

pagi itu suasana tegang menyelimuti kelas tiga, salma dan teman-teman sepelariannya berdiri didepan kelas menghadapi walikelas mereka yang bernama pak iwan. mereka semua di interogasi dengan perasaan takut dan menyesal
" siapa yang ngajak ?" tanya pak iwan kepada farida
" salma pak" jawab farida yang membuat salma hanya bisa menelan ludah
" kamu siapa yang ngajak ?" tanya pak iwan kepada ika dan astrid dan mereka menjawab dengan pertanyaan yang sama dengan menyudutkan salma.
" kamu yang ajak ?" tanya pak iwan kepada salma dengan nada menekan, salma bisa merasakan jantungnya memburu hingga membuat perutnya terasa mulas
" iya saya yang ajak pak, tapi yang punya ide santy pak" jawab salma dengan suara bergetar dengan pandangan menunduk ke lantai
" santy kamu yang punya ide ?"tanya pak iwan kepada santy, ia hanya mengangguk lemah dan pasrah
hari itu mereka dihukum dan mendapat bully dari teman sekelas lainnya. dan hal itu pula membuat santy merasa sedikit kesal terhadap salma akan perkataannya yang menunjuk ia sebagai oang yang membuat ide. sejak kejadian itu hubungan mereka agak sedikit renggang tetapi mereka tetap berteman dan berangkat sekolah bersama.
477 tidak sadar bahwa selama berhari-hari ia memperhatikan salma jantungnya ikut berdebar ia merasa takut sekaligus perduli saat insiden pelarian itu. ia tidak sadar bahwa rasa perdulinya melebihi dari yang seharusnya dan ia hanya berharap seandainya ia adalah manusia maka dia ingin sekali berbicara dengan salma walau hanya sekali. ia tidak sadar jantungnya memburu hanya dengan memikirkan salma dan itu tidak terjadi saat ia bersama dengan juli, ia tidak sadar saat ia tidak ikut pelajaran kelas empat dan malah ikut masuk ke kelas tiga hanya untuk melihat salma bersama teman-temannya.

" kau tersenyum sendiri, apa ada hal yang bagus ?" tanya 918 memotong lamunan 477 saat itu
" iya aku merasa hidup akhir-akhir ini" jawabnya sambil tersenyum
" apa yang membuatmu begitu ?" tanya david yang tiba-tiba menghampiri mereka
" Entahlah, aku memikirkan seseorang dan hanya dengan itu saja membuatku senang" jawab 477 sambil menerawang ke langit
" Ohh " sambut david seakan menangkap kata-katanya
" apa yang kalian ketahui dan aku tidak ?" tanya 918 dengan nada dibuat kesal
" 477 sepertinya menyukai seseorang" jawaban david  membuat 477 sedikit terkejut, tetapi ia tidak berkata apa-apa
" juli kan ? " tanya 918 dengan penuh keyakinan
" bukan, seorang manusia " bisik david pelan
" heh ??? " balas 918 terkesiap
" kau benar 486 sepertinya aku menyukai gadis itu" jawab 477 dengan nada sedikit canggung
" siapa namanya ?" tanya david dan 918 hampir bersamaan
" salma... namanya salma iskandar" ucapnya sambil tersenyum



Tidak ada komentar:

Posting Komentar